11 Tips Backpacker Jakarta-Labuan Bajo PP Budget Rp 3 Jutaan

0
210

ARCHIPELAGO – Banyak orang enggan melancong ke Labuan Bajo karena malas mengeluarkan biaya jutaan rupiah. Embel-embel mahal pun tak pelak melekat. Namun, Pada awal Januari lalu, selama 5 hari, saya mencoba untuk melancong ala backpacker dari Jakarta ke Bajo dengan budget tak sampai Rp 3,3 juta pergi-pulang.

Apa saja tips-nya dan bagaimana caranya?

  1. Pergi bertiga

Salah satu trik untuk menghemat pengeluaran saat sedang melancong adalah sharing cost atau membagi biaya perjalanan. Maka itu, untuk menekan bujet, saya mengajak dua teman lainnya. Pergi bertiga adalah jumlah yang ideal. Sebab, saya bisa membagi biaya kapal yang nanti akan disewa selama di Bajo, membagi biaya menginap, bahkan membagi biaya makan.

Saya menghindari jumlah yang lebih dari tiga orang selama trip. Alasannya, kalau bertiga, kami bisa menyewa hanya satu kamar hotel.

2. Pilih waktu trip sepekan setelah libur Natal dan tahun baru

Pekan awal Januari, seusai libur panjang berakhir, jagat pariwisata tengah memasuki masa low season. Orang-orang tidak lagi berpikir tentang liburan. Mereka mulai berfokus kembali ke kantor, sekolah, atau kampus. Itulah saat yang tepat bagi saya untuk memilih waktu jalan-jalan.

Pada masa-masa seperti ini, umumnya maskapai penerbangan membanting harga hingga batas paling rendah. Begitu juga dengan hotel. Lantaran okupansi menurun, banyak diantaranya yang mengadakan promo potongan harga.

3. Pilih penerbangan dari Jakarta ke Lombok

Harga tiket maskapai penerbangan dari Jakarta ke Lombok terhitung relatif murah. Bahkan kadang lebih murah daripada harga tiket penerbangan dari Jakarta ke Bali. Kalau low season seperti Januari ini, harganya berkisar Rp 500 ribuan. Saya memilih jadwal penerbangan paling pagi, harga tiket Rp 514 ribu.

4. Menempuh jalur darat dari Lombok menuju Sumbawa

PEMANDANGAN DARI PUNCAK BUKIT KANAWA

Setelah mendarat di Labuan Bajo, saya melakoni perjalanan jalur darat, disambung jalur laut, menuju Flores. Dari Bandara Internasional Lombok, saya memutuskan naik bus DAMRI arah Selong (Lombok Timur) untuk menuju Pelabuhan Kayangan.

Tiket bus DAMRI dibanderol Rp 35 ribu per orang. Untuk menuju pelabuhan, penumpang harus turun di Masbagik. Total waktu tempuh dari bandara ke Masbagik 2 jam. Lalu, perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan umum. Tarif angkutan umum dari Masbagik ke Pelabuhan Kayangan Rp 25 ribu. Waktu tempuhnya kira-kira satu jam. Perjalanan dari Pelabuhan Kayangan menuju Pelabuhan Poto Tano ditempuh menggunakan kapal feri dengan tarif Rp 17 ribu. Total waktu tempuh perjalanan dari Lombok menuju Sumbawa 2-3 jam, tergantung gelombang.

Memilih jalur darat dari Poto Tano menuju Bima, mampir refreshing di Pulau Kenawa. Kapal feri dari Lombok berlabuh di Poto Tano sekitar pukul 14.00. Dari sini, saya akan menempuh jalur darat menuju Bima menggunakan bus. Namun, bus baru melintas sekitar pukul 20.00. Maka, untuk refreshing, sekaligus supaya tak penat di jalan, saya mampir di Pulau Kenawa yang jaraknya tak jauh-jauh amat dari Pelabuhan Poto Tano.

Dari Poto Tano, saya berjalan menuju dermaga kecil di dekat kampung nelayan, kira-kira 300 meter dari pelabuhan. Dari situ, saya menyewa kapal kecil menuju Pulau Kenawa. Biaya sewa Rp 200 ribu pergi-pulang untuk satu kapal. Satu kapal muat hingga delapan orang. Karena pergi bertiga, maka biaya sewa kapal kami bagi rata. Per orang pun cuma membayar Rp 67 ribu.

Setelah puas bermain di Kenawa, saya bersiap menunggu bus menuju Bima. Jangan lupa mampir ke kampung nelayan untuk numpang mandi.

Perjalanan menuju Bima ditempuh kurang lebih 8 jam dengan biaya Rp 80 ribu untuk bus ekonomi. Sedangkan bus VIP berkisar Rp 120 ribu.

5. Tekan Biaya Akomodasi, Pilih Perjalanan Malam

Memilih perjalanan malam hari dari Poto Tano ke Bima tentu cukup menekan bujet pengeluaran untuk akomodasi. Sebab, saya tak perlu lagi menyewa akomodasi karena bakal tidur di bus. Juga, bus baru sampai di Bima subuh, pukul 05.00. Jadi, setelah tiba, saya bisa langsung melanjutkan perjalanan menuju Sape.

Dari Bima menuju Sape menggunakan angkutan desa. Untuk menyeberang ke Flores, sesampainya di Bima, saya kudu menuju Pelabuhan Sape lebih dulu. Waktu tempuh terminal Kota Bima ke Pelabuhan Sape kira-kira satu jam. Bisa pakai kendaraan sewa, bisa juga menggunakan angkutan desa serupa metromini di Jakarta. Tarifnya Rp 30 ribu.

6. Menyeberang ke Flores Pakai Feri

Pastikan sampai di Pelabuhan Sape pagi-pagi benar karena kapal feri menuju Labuan Bajo hanya berangkat sehari sekali pukul 10.00. Biaya kapal per satu orang Rp 60 ribu. Perjalanan akan ditempuh selama 6-8 jam, tergantung gelombang.

7. Pilih penginapan di dekat Pantai Kampung Ujung

Sesampainya di Labuan Bajo, pergilah langsung ke sekitar Pantai Kampung Ujung. Di sana banyak penginapan kelas backpacker dengan bujet rata-rata Rp 150-300 ribu per kamar.

Lokasinya tak jauh-jauh amat dari pelabuhan. Bisa ditempuh dengan jalan kaki 10 menit. Selain itu, lokasinya strategis, dekat dengan sentra kuliner seafood. Lalu, jangan ragu untuk menawar harga penginapan. Saya kala itu menawar harga kamar per malam Rp 250 ribu (kamar dengan fasilitas AC) untuk tiga orang alias negosiasi supaya tak kena charge extra bed. Per orang pun cuma harus mengeluarkan bujet Rp 84 ribu untuk semalam.

8. Sewa Motor di Kampung Ujung untuk City Tour

Jalan-jalan keliling Kota Labuan Bajo juga lebih murah bila pelancong menyewa motor. Ada beragam tempat penyewaan motor di sana. Harganya pun bervariasi. Saya berkeliling dulu untuk membandingkan harga. Ada yang Rp 50 ribu, ada pula yang Rp 80 ribu. Harga sewa terendah saya dapatkan di daerah Kampung Ujung, dekat dengan sentra kuliner. Tepatnya di perkampungan warga.

9. Sewa kapal langsung ke pemilik kapal, bukan lewat agen tur

SAILING SEHARI

Tujuan pergi ke Labuan Bajo tentu adalah sailing ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Maka itu, di kota ini, banyak agen tur yang menawarkan trip sailing. Namun, untuk menekan bujet, hindari memakai jasa agen-agen tersebut. Langsung datang saja ke Pelabuhan Pelni yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta. Di sana banyak kapal bersandar. Anda bisa langsung bernegosiasi harga sewa kapal dengan mereka. Harganya bervariasi, tergantung berapa banyak pulau yang dikunjungi dan berapa lama Anda ingin sailing.

Berbeda dengan pelancong lain yang menghabiskan waktu 2-3 hari untuk sailing di pulau-pulau, saya memilih berlayar cuma sehari. Sebab, biayanya jauh lebih murah. Untuk sailing sehari, biaya sewa kapal dengan tujuan Pulau Rinca (untuk melihat komodo), Pulau Kelor (untuk trekking ke atas bukit), dan Pulau Kanawa (untuk snorkeling), dibanderol Rp 750 ribu—tentu dengan tawar-menawar yang alot. Karena pergi bertiga, kami bagi rata biaya sewa kapal hingga per orang cuma mengeluarkan Rp 250 ribu. Kalau ingin ke pulau yang lebih jauh, seperti Pulau Padar dan Gili Laba, biaya sewa naik menjadi Rp 2 juta per kapal. Tentu masih lebih murah dibanding harus berlayar 3 hari dengan bujet per orang mencapai Rp 2,5-3 juta per orang.

10. Beli oleh-oleh di Pasar Wai Kesambi

Pulang melancong, kurang lengkap rasanya kalau tak bawa buah tangan. Namun, lantaran pergi dengan konsep minim bujet, saya juga tak bisa bawa oleh-oleh dengan harga mahal, seperti yang dijual di toko oleh-oleh di Kota Labuan Bajo. Karena itu, alternatifnya, saya pergi ke Pasar Wai Kesambi. Di sana dijual berbagai makanan lokal, seperti jintan, bapalaya, dan kompiang. Harga kompiang Rp 1.000 per buah, sedangkan jintan dan bapalaya Rp 10 ribu per bungkus. Cukup menarik untuk dibawa pulang. Lagian, di pasar itu, pelancong juga bisa belajar mengenal kehidupan asli orang lokal.

11. Pulang naik pesawat dengan rute transit di Bali

Saatnya pulang ke Jakarta setelah puas melancong di Labuan Bajo. Untuk menghemat waktu, supaya tak lama-lama amat sampai tujuan, saya memilih pulang lewat jalur udara. Tiket paling murah yang tersedia dari Labuan Bajo ke Jakarta adalah tiket indirect atau terpisah. Artinya, penumpang kudu transit di Bali. Harganya berkisar Rp 1,1-1,2 juta saat low season.

Bila dikalkulasi, jumlah pengeluaran saya dari Jakarta sampai Labuan Bajo, termasuk untuk makan, sewa kapal, sewa alat snorkeling, biaya masuk melihat komodo di Pulau Rinca (Rp 90 ribu), sampai untuk beli oleh-oleh tak sampai Rp 3,3 juta. Kunci utamanya adalah tak boleh malu untuk menawar dan tak malas membandingkan harga.(*/TEMPO)

LEAVE A REPLY