5 Fakta Mojokerto, Kota Terkecil di Indonesia

0
35

ARCHIPELAGO – Nama Kota Mojokerto mungkin tidak terlalu akrab terdengar di telinga, tapi bagi para penyuka sejarah, Mojokerto tentu jadi salah satu tempat yang pas untuk berpetualang.

Mengutip keterangan dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kota Mojokerto punya beragam bukti sejarah sepanjang masa kehidupannya.

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, Mojokerto memiliki peran penting di dalamnya. Hal ini ditandai dengan beragam peninggalan berupa candi dan artefak lainnya yang berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Menariknya lagi, walau punya segudang kisah klasik, Mojokerto ternyata punya wilayah yang kecil.

Hal ini menjadikan kota di Jawa Timur itu sebagai kota terkecil di Indonesia. Kali ini redaksi merangkum lima fakta unik terkait Mojokerto, apa saja?

1. Kota Terkecil di Indonesia

Keindahan Alun Alun Mojokerto di Malam Hari

Kota Mojokerto memiliki luas wilayah 16,47 kilometer persegi, atau sekitar delapan kali lebih kecil dari Kota Jakarta Selatan. Mengutip data dari laman resmi Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Jawa Timur, kota yang berlokasi sekitar 50 kilometer dari Surabaya itu menjadi kota dengan luas wilayah terkecil di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.

Berbatasan langsung dengan Sungai Brantas di sebelah utara, Kota Mojokerto berdiri berdasarkan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda J. Van Limburgstirum dengan staatblad No. 324 tahun 1918.

Kemudian pada masa revolusi tahun 1945 – 1950, Kota Mojokerto menjadi bagian Kabupaten Mojokerto, sebelum akhirnya secara penuh dikukuhkan sebagai kota pada tahun 1999.

2. Kaya Sejarah dan Budaya

Pada masa klasik, Mojokerto memegang peranan penting karena menjadi pusat Kerajaan Majapahit, yang merupakan kerajaan terbesar di Indonesia. Peninggalan kerajaan Majapahit akan sangat mudah kamu temukan saat mengeksplorasi Mojokerto. Misalnya saja Gapura Bajang Ratu yaitu sebuah gapura yang berdiri di kawasan Trowulan.

Gapura Bajang Ratu merupakan gerbang masuk kompleks penting bangunan di ibu kota Majapahit. Selain Gapura Bajang Ratu, kamu masih dapat menemukan beragam candi di Mojokerto yang dulunya digunakan sebagai tempat beribadah, seperti Candi Minak Jinggo, Candi Tikus, dan Candi Jolotundo yang terkenal memiliki air yang berkhasiat.

Ingin melihat peninggalan budayanya? Kamu bisa menyambangi Museum Majapahit atau yang lebih dikenal sebagai Museum Trowulan oleh penduduk setempat.

Di Museum Majapahit, kamu akan menemukan koleksi terakota (tanah liat) yang membentuk peralatan rumah tangga, peralatan upacara dari logam, hingga koleksi keramik Kerajaan Majapahit yang berasal dari negara tetangga seperti China, Thailand, dan Vietnam. Wajar saja jika seluruh peninggalan sejarah dari masa klasik ini menjadi daya tarik wisata Mojokerto.

3. Punya Patung Buddha Tidur

Ingin melihat patung Buddha tidur yang fenomenal ternyata tak mesti jauh-jauh ke negeri orang, lho. Karena di Trowulan, Mojokerto, kamu bisa menemukan sebuah Patung Buddha Tidur maha Vihara Mojopahit yang indah.

Patung yang diklaim sebagai patung Buddha terbesar di Indonesia itu menggambarkan kondisi Siddharta Gautama yang terbaring lemah karena sakit di antara dua pohon sala di Kusnigara.

Memiliki panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter, Patung Buddha Tidur di Trowulan ini bahkan mencatat rekor MURI pada tahun 2001 dan diresmikan jadi salah satu destinasi wisata pada tahun 2012.

4. Kota Onde-Onde

Jajanan Khas asli Mojokerto

Mojokerto telah lama dikenal sebagai Kota Onde-Onde. Sejak zaman Kerajaan Majapahit, kudapan onde-onde menjadi kuliner khas andalan Kota Mojokerto.

Saking kentalnya hubungan antara onde-onde dengan Mojokerto, perjalanan ke kota yang berada di Jawa Timur tersebut pasti akan terasa tak lengkap jika kamu melewatkan kesempatan mencicipinya.

Kue yang terbuat dari tepung beras ketan yang berisi kacang hijau tumbuk ini bahkan menjadi buah tangan wajib bagi pelancong yang traveling ke Mojokerto. Salah satu penjual kue onde-onde yang legendaris dan ternama di Mojokerto adalah Onde-Onde Bo Liem yang telah berdiri sejak 1929.

5. Punya Kesenian Khas Bernama Ludruk

Ludruk sebenarnya adalah kesenian khas Jawa Timur, hanya saja di Mojokerto, menemukan ludruk terhitung cukup mudah, karena penduduknya sangat senang dengan kesenian Jawa yang penuh guyon tersebut. Hampir mirip dengan seni asal Jawa Tengah, ketoprak, bedanya ludruk mengangkat kisah di masa kini.

Para pementasnya akan menceritakan kehidupan sehari-hari dengan tema yang berbeda-beda, misalnya perjuangan, keseharian, atau tema lainnya yang diceritakan dengan mengandalkan guyonan dalam tutur kata dan gerak. Bahasa yang digunakan dalam pementasan ludruk biasanya adalah bahasa Jawa Timur.

Karena bahasannya yang lebih ringan, ludruk digemari seluruh kalangan, sebab dekat dengan kehidupan sehari-hari para penontonnya.(NUH/KUMPARAN)

ENGLISH VERSIONS:

5 Facts of Mojokerto, the Smallest City in Indonesia

ARCHIPELAGO – The name of the city of Mojokerto may not be too familiar to the ears, but for history buffs, Mojokerto is certainly one of the right places for adventure.

Citing information from the official website of the Ministry of Education and Culture, Mojokerto City has a variety of historical evidence throughout its lifetime.

During the Hindu-Buddhist kingdom, Mojokerto had an important role in it. This is characterized by various relics in the form of temples and other artifacts originating from the time of the Majapahit Kingdom. Interestingly, despite having a myriad of classic stories, Mojokerto turned out to have a small area.

This makes the city in East Java the smallest city in Indonesia. This time the editor summarizes five unique facts related to Mojokerto, what are they?

1. The Smallest City in Indonesia

The city of Mojokerto has an area of ​​16.47 square kilometers, or about eight times smaller than the City of South Jakarta. Citing data from the official website of the Supreme Audit Board of Representatives of East Java Province, the city, located about 50 kilometers from Surabaya, became the smallest city in East Java, even in Indonesia.

Directly adjacent to the Brantas River in the north, the City of Mojokerto stands based on the Decree of the Governor of the Netherlands East Indies J. Van Limburgstirum with staatblad No. 324 of 1918.

Then in the revolutionary period of 1945 – 1950, the city of Mojokerto became part of Mojokerto Regency, before finally being fully confirmed as a city in 1999.

2. Rich History and Culture

Candi Tikus

In classical times, Mojokerto played an important role because it became the center of the Majapahit Kingdom, which was the largest kingdom in Indonesia. The legacy of the Majapahit kingdom will be very easy to find when exploring Mojokerto. For example, the Bajang Ratu Gate is a gate that stands in the Trowulan area.

Bajang Ratu Gate is the entrance to the important building complex in the capital city of Majapahit. In addition to the Bajang Ratu Gate, you can still find a variety of temples in Mojokerto that were used as places of worship, such as the Minak Jinggo Temple, Tikus Temple, and the famous Jolotundo Temple which has nutritious water.

Want to see the cultural heritage? You can visit the Majapahit Museum or better known as the Trowulan Museum by locals.

In the Majapahit Museum, you will find terracotta collections (clay) that make up household appliances, ceremonial equipment from metal, to a collection of Majapahit Kingdom ceramics from neighboring countries such as China, Thailand and Vietnam. Naturally, all the historical heritages from this classical period become Mojokerto’s tourist attraction.

3. Have a Sleeping Buddha Statue

Sleeping Budha Statue

Want to see a phenomenal sleeping Buddha statue that doesn’t have to go all the way to people’s land, you know. Because in Trowulan, Mojokerto, you can find a beautiful Sleeping Buddha of Mojopahit Monastery.

The statue, claimed to be the largest Buddha statue in Indonesia, illustrates the condition of Siddharta Gautama who was lying weak because of illness between two sala trees in Kusnigara.

Having a length of 22 meters, 6 meters wide and 4.5 meters high, the Sleeping Buddha Statue in Trowulan even recorded a MURI record in 2001 and was inaugurated as one of the tourist destinations in 2012.

4. City of Onde-Onde

Mojokerto has long been known as the City of Onde-Onde. Since the time of the Majapahit Kingdom, the snack of onde-onde has become a mainstay of culinary delights in the city of Mojokerto.

Because of the strong relationship between the dumplings and Mojokerto, the trip to the city in East Java will definitely feel incomplete if you miss the opportunity to taste it.

Cake made from glutinous rice flour containing mashed green beans is even a souvenir for travelers traveling to Mojokerto. One of the legendary and famous sellers of dumpling cakes in Mojokerto is Onde-Onde Bo Liem which has been established since 1929.

5. Have Special Art Named Ludruk

Ludruk is actually a typical East Javanese art, only in Mojokerto, finding ludruk counts quite easily, because the population is very happy with the joking Javanese art. Almost similar to the art from Central Java, ketoprak, the difference between ludruk is to raise the story in the present.

The performers will share daily life with different themes, such as struggle, daily life, or other themes that are told by relying on jokes in speech and motion. The language used in ludruk staging is usually East Javanese.

Because the discussion is lighter, ludruk is loved by all circles, because it is close to the daily lives of the audience. (NUH / KUMPARAN)

LEAVE A REPLY