Berburu 3 Kuliner Tradisional Khas di Pasar Gede Solo

0
306

ARCHIPELAGO – Kelezatan kuliner tradisional khas Solo tidak hanya bisa dinikmati di restoran, warung maupun pedagang pinggir jalan. Beraneka menu tradisional juga bisa ditemukan sekaligus dinikmati di dalam pasar.

Pasar Gede Harjonagoro adalah salah satunya, dimana masyarakat bisa menemukan makanan tradisional dengan cukup mudah. Beberapa bahkan cukup legendaris dan dijual oleh pedagang secara turun temurun.

Cara menikmati kuliner di dalam pasar juga cukup unik. Berbagai aroma yang bercampur menjadi satu, dari buah, daging hingga ikan asin tidak akan mengurangi kenikmatan bersantap para pemburu kuliner.

Selain itu, nyaris tidak ada tempat duduk yang tersedia. Pembeli harus berjubel mengelilingi pedagang dan harus berbagi ruang dengan pengunjung lain yang berlalu lalang di pasar yang berada di sekitar titik nol kilometer di Kota Solo itu.

Ada beberapa santapan yang siap untuk menggoyang lidah para pengunjung pasar maupun wisatawan yang sengaja datang untuk berburu kuliner. Setidaknya, ada tiga kuliner yang banyak dicari.

1. Dawet Telasih

Dawet telasih yang dijual di Pasar Gede memiliki isi yang cukup lengkap. Bukan hanya cendol serta biji telasih, dawet ini juga berisi bubur sumsum, ketan hitam serta ketan hitam.

Ada beberapa pedagang yang menjual dawet telasih ini. Yang paling terkenal adalah Bu Dermi. “Sudah turun-temurun tiga generasi,” kata penjualnya, Tulus Subekti.

Kuliner ini cukup segar, apalagi jika menggunakan es. Santan diguyur dengan cairan gula namun dengan rasa manis yang pas di lidah. Biji telasih yang wangi membuat dawet terasa lebih segar.

Di tempat tersebut hanya ada satu bangku panjang yang cukup diduduki oleh dua hingga tiga orang. Pembeli lain harus rela bersantap sembari berdiri. “Banyak juga yang dibungkus untuk dibawa pulang,” kata Subekti.

Harga dawet yang biasa menjadi langganan artis hingga pejabat itu juga tidak terlalu mahal. Hanya dengan Rp 9 ribu, pembeli dapat menikmati segarnya dawet telasih yang menyegarkan.

2. Brambang Asem

Masakan brambang asem, sering juga disebut dengan plencing, terlihat sangat sederhana. Makanan ini berupa daun ubi jalar yang telah direbus dicampur dengan sambal khusus. Hanya ada tambahan berupa sepotong tempe bacem.

Meski hanya sederhana, kuliner ini banyak dicari karena kelezatannya. Di Pasar Gede, pembeli biasa makan di tempat ataupun dibungkus untuk dibawa pulang.

Jika dimakan ditempat, penjual menyajikannya dalam pincuk yang terbuat dari daun pisang. “Banyak yang makan di tempat meski sama-sekali tidak ada kursi,” kata Nanik, salah satu pedagang brambang asem.

Salah satu kunci kelezatan masakan ini terletak di sambalnya, yang merupakan paduan rasa pedas, manis dan asam. Sambal ini juga menggunakan campuran bawang merah yang cukup banyak.

Tingkat kematangan daun ibu jalar juga diatur sedemikian rupa sehingga terasa renyah saat dikunyah. Harga masakan ini sangat murah. “Harga satu porsi hanya Rp 5 ribu,” kata Nanik.

3. Cabuk Rambak

Kuliner bernama cabuk rambak ini juga sangat mudah ditemukan di Pasar Gede. Pedagang biasanya menjualnya bersama makanan lain, seperti pecel, bothok maupun brambang asem.

Seperti halnya brambang asem, sajian kuliner ini juga sangat sederhana. Masakan ini berupa beberapa potong ketupat yang diguyur dengan sambal berwarna cokelat. Masakan ini disantap bersama karak atau rambak.

“Sambalnya memang berbeda dengan sambal lain,” kata salah satu pedagang, Farida. Mereka menggunakan sambal yang terbuat dari wijen. Tentu saja, ada beberapa tambahan bumbu untuk sambal tersebut, seperti daun jeruk purut, bawang putih, kemiri, kencur hingga lada bubuk.

Porsi cabuk rambak memang tidak begitu banyak. “Biasanya hanya untuk selingan,” katanya. Seporsi cabuk rambak biasa dijual seharga Rp 5 ribu.(NUH/TEMPO)

LEAVE A REPLY