Candi Gununggangsir, Penghormatan Pada Nyi Sri Gati

0
187

ARCHIPELAGO – Candi Gunung Gangsir terletak di Desa Gunung Gangsir Kecamatan Beji, sekitar 18 km dari kota Pasuruan. Candi ini sebenarnya bernama bernama Candi Keboncandi, namun karena letaknya di Desa Gunung Gangsir, maka masyarakat setempat menyebutnya Candi Gunung Gangsir.

Tidak banyak informasi yang bisa didapat mengenai candi yang konon dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga itu, yaitu sekitar abad ke-11 M. Walaupun diperkirakan berasal dari masa yang lebih awal sebelum masa pemerintahan Singasari, Candi Gunung Gangsir dibangun menggunakan bahan batu bata, bukan batu andesit.

Relief yang menghiasi dinding candi.

Mengenai fungsi Candi Gunung Gangsir tidak didapatkan informasi yang jelas. Masyarakat setempat mempunyai versi tersendiri mengenai tujuan pembangunan candi ini. Menurut mereka, Candi Gunung Gangsir dibangun sebagai penghormatan kepada Nyi Sri Gati, yang dijuluki Mbok Randa Derma (janda murah hati), atas jasanya dalam membangun masyarakat pertanian di daerah itu.

Nyi Sri Gati merupakan tokoh legenda masyarakat setempat. Pada zaman dahulu masyarakat di daerah itu belum mengenal kehidupan bercocok tanam. Mereka senang mengembara dan makanan utamanya adalah sebangsa rerumputan. Suatu saat, rerumputan yang menjadi makanan pokok mereka mulai menipis persediaannya. Pada saat itu datanglah seorang wanita, entah dari mana asalnya, bernama Nyi Sri Gati. Wanita itu mengajak para pengembara untuk berdoa, meminta petunjuk kepada Hyang Widi tentang bagaimana caranya mengatasi kekurangan pangan yang mereka alami.

Relief bunga yang dipersembahkan untuk Nyi

Tak lama kemudian datang serombongan burung sebangsa burung gelatik dengan membawa padi-padian, lalu menjatuhkannya di dekat para pengembara. Padi yang jatuh itu kemudian ditanam Nyi Sri Gati. Beberapa bulan kemudian, tanaman Nyi Sri Gati sudah dapat dipanen. Nyi Sri Gati kemudian menumbuk hasil panennya untuk dijadikan beras, yang kemudian diolahnya menjadi nasi.

Nyi Sri Gati kemudian mengajarkan cara bercocok tanam kepada para pengembara. Sejak saat itu, masyarakat pengembara tersebut menetap dan hidup dari bercocok tanam. Mereka menjadikan padi sebagai makanan pokoknya. Sebagian dari padi yang dijatuhkan burung tadi berubah menjadi permata yang membuat Nyi Sri Gati menjadi kaya raya.

Banyak relief di dinding candi sebagai wujud keindahan untuk Nyi Sri Gati

Candi Gunung Gangsir belum pernah mengalami pemugaran secara menyeluruh. Walaupun secara keseluruhan bangunan Candi Gunung Gangsir masih megah berdiri, namun banyak bagian yang telah hancur. Konon candi ini mengalami kerusakan berat pada zaman penjajahan Jepang. Banyak hiasan pada dinding candi yang diambil oleh tentara Jepang untuk membiayai perang.

Setelah Jepang berlalu, penduduk melakukan perbaikan sekedarnya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang pemugaran candi. Beberapa potongan bata atau hiasan dinding terlihat sangat berbeda dengan tempatnya menempel. Sepertinya letak yang sebenarnya bukan di tempat tersebut.

Kaki candi berbentuk segi empat dengan dengan ukuran sekitar 15 x 15 m2. Tinggi bangunan mencapai sekitar 15 m. Di dalam tubuh candi terdapat ruangan yang konon cukup luas, sehingga dapat menampung 50 orang. Pintu masuk ke ruangan tersebut terletak di sebelah barat, berjarak sekitar 5 m dari tanah. Untuk mencapai pintu terdapat tangga yang cukup lebar, yang menjorok jauh ke barat. Sayang sekali tangga tersebut telah hancur, sehingga sulit untuk ditapaki.

Beraneka relief terpahat di dinding candi

Pada dinding di sisi kanan dan kiri atas pintu terdapat relung yang terlihat seperti tempat meletakkan arca. Relung di sisi selatan sudah hancur, sementara yang di sisi utara masih tampak bekasnya.

Saat ini atap candi berbentuk melengkung dengan ujung tumpul seperti puncak gunung. Bagian puncak atap sudah hancur, namun masih terlihat lapik penyangga puncak atap. Dari belakang, bangunan candi tampak seperti bukit kecil yang terbuat dari batu bata. Tidak terdapat relung-relung tempat meletakkan arca.

Beberapa hiasan masih menempel pada dinding candi. Di kiri dan kanan puncak tangga terdapat hiasan berupa pahatan gambar wadah berhiaskan sulur-suluran dan gambar seorang wanita. Hiasan yang terbuat dari batu bata tersebut sangat halus, nyaris terlihat sebagai hasil cetakan, bukan pahatan.(BUD/*)

ENGLISH VERSIONS:

Gununggangsir Temple, The Respect for Nyi Sri Gati

ARCHIPELAGO – Gunung Gangsir Temple is located in Gunung Gangsir Village, Beji District, about 18 km from the city of Pasuruan. This temple is actually called Keboncandi Temple, but because it is located in the Gunung Gangsir Village, the local people call it the Gunung Gangsir Temple.

There is not much information that can be obtained regarding the temple which was said to have been built during the reign of King Airlangga, which is around the 11th century AD Although it is thought to have originated earlier than the Singasari reign, the Gunung Gangsir Temple was built using brick, not stone andesite.

Regarding the function of Gunung Gangsir Temple no clear information was obtained. The local community has its own version of the purpose of building this temple. According to them, the Temple of Mount Gangsir was built as a tribute to Nyi Sri Gati, who was nicknamed Mbok Randa Derma (generous widow), for her services in building agricultural communities in the area.

Nyi Sri Gati is a local legend figure. In ancient times people in the area did not know about farming. They love to wander and the main food is a countryman. One time, the grass that became their staple food began to thin out. At that time there came a woman, from where she came from, named Nyi Sri Gati. The woman invited the wanderers to pray, asking Hyang Widi for instructions on how to overcome the food shortages they had experienced.

Mosque in the area of Temple

Shortly thereafter came a group of sparrow birds carrying grain, then dropped it near the wanderers. The falling rice was then planted by Nyi Sri Gati. A few months later, the Nyi Sri Gati plant can be harvested. Nyi Sri Gati then pounded her crops to make rice, which she then processed into rice.

Nyi Sri Gati then taught how to grow crops to the travelers. Since then, these nomads have settled and lived from farming. They make rice as their staple food. Some of the rice dropped by the bird turned into a gem that made Nyi Sri Gati become rich

The Gunung Gangsir Temple has never been thoroughly refurbished. Although the overall building of the Gunung Gangsir Temple still stands majestically, many parts have been destroyed. It is said that this temple suffered heavy damage during the Japanese colonial era. Many decorations on the walls of the temple were taken by Japanese soldiers to finance the war.

After Japan passed, residents made a modest improvement without being based on adequate knowledge about the restoration of the temple. Some pieces of brick or wall hangings look very different from where they stick. Looks like the real location isn’t in that place.

The temple’s feet are rectangular in shape with sizes around 15 x 15 m2. The building’s height reaches around 15 m. Inside the body of the temple there is a room that is said to be quite spacious, so it can accommodate 50 people. The entrance to the room is located in the west, about 5 m from the ground. To reach the door there is a ladder that is wide enough, which juts far to the west. Too bad the stairs have been destroyed, making it difficult to climb.

On the wall on the right and left side of the door there is a niche that looks like a place to put a statue. The niches on the south side have been destroyed, while the ones on the north side still appear to be scars.

At present the roof of the temple is curved with blunt ends like a mountain peak. The top of the roof has been destroyed, but the roof top support is still visible. From behind, the temple building looks like a small hill made of brick. There are no niches where the statue is placed.

Some decorations are still attached to the temple walls. On the left and right of the top of the stairs there are decorations in the form of carved images of containers decorated with tendrils and pictures of a woman. Ornaments made of brick are very smooth, almost visible as prints, not sculptures. (BUD/*)

LEAVE A REPLY