Candi Lor, Bukti Berdirinya kota Nganjuk

0
576

ARCHIPELAGO – Nganjuk merupakan sebuah kota kecil yang memiliki potensi dalam berbagai sektor kehidupan. Salah satu diantaranya adalah sektor pariwisata. Tidak hanya keindahan panorama alam saja yang ditawarkan tapi berbagai obyek wisata, Budaya, Sejarah. Salah satunya tentang keberadaan Candi Lor.

Lokasi candi lor ini terletak di desa Candirejo kecamatan Loceret kabupaten Nganjuk. Jika kita menggunakan sarana transportasi umum, kita bisa menggunakan bus jurusan Nganjuk-Kediri kemudian turun di pertigaan Loceret. Setelah itu, kita bisa menggunakan becak atau ojek. Untuk menghemat biaya, pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 5 menit saja.

Lokasi Candi Lor

Pada candi lor ini, kita bisa menyaksikan bukti sejarah penting berdirinya kota Nganjuk. Bukti peninggalan di masa lampau ini memang sudah terlihat sangat tua. Candi ini berdiri di atas tanah seluas 42 x 39,4 meter (91654 meter persegi), luas soebasemen (alas) 12,4 x 11,5 meter (142,6 meter persegi) dan tinggi candi lebih kurang 9,3 meter.

Candi ini didirikan tahun 859 Çaka atau 937 Masehi sebagai Tugu Peringatan atas jasa masyarakat Anjuk Ladang (sekarang Nganjuk, RED) saat melawan tentara Melayu. Prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan di sekitar Candi Lor merupakan bukti sejarah berdirinya Kabupaten Nganjuk.

Bangunan candi yang mulai rusak

Bagian yang memuat angka tahun pada Prasasti Anjuk Ladang tersebut sudah aus sehingga menimbulkan berbagai penafsiran para ahli. Brandes membacanya 857 Çaka yang kemudian hari diragukan ketepatannya oleh L.C. Damais. Menurutnya angka tahun tersebut haruslah dibaca 859 Çaka (937 M).

Prasasti Anjuk Ladang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isyana Wikrama Dharmottungga Dewa yang memerintahkan Rakai Hino Pu Sahasra Rakai Wka Pu Baliswara serta Rakai Kanuruhan Pu Da untuk menetapkan Watek Anjuk Ladang (Nganjuk) sebagai Desa Swantantra, seperti tersurat dalam kalimat: …”Sawah kakaitan I Anjuk Ladang tutugani tanda Swantantra”.

Bangunan candi Lor

Habib Mustopo menjelaskan, data yang tak diragukan adalah adanya centara penetapan Swantantra di Anjuk Ladang dengan sebuah bangunan suci seorang tokoh yang cukup terkenal yaitu “Bhatara I Sang Hyang plasada kabyaktan I dharma samgat I Anjuk Ladang”. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Candi Lor paling tidak berasal dari 859 Çaka atau 937 M dan berhubungan langsung dengan Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isyana Wikramatunggadewa dan sampai sekarang Candi Lor dikenal sebagai candi cikal bakal berdirinya Kabupaten Nganjuk dan sebagai dasar penetapan hari jadi Kota Nganjuk pada tanggal 10 April 937 M.

Candi ini dibangun dengan menggunakan batu andesit sebagai bahan dasarnya. Candi ini juga disebut dengan Candi boto (candi batu bata,RED) karena terlihat seperti susunan-susunan batu bata merah. Komponen lain dari candi ini adalah pecahan Yoni dan ambang pintu. Sebenarnya terdapat dua arca yang ada di candi ini, namun mungkin sudah dipindahkan ke museum Anjuk Ladang untuk menjaga estestika dan kemurniannya. Di obyek wisata ini terdapat pula batu bertulis yang memuat kata yang sangat dekat sekali dengan Nganjuk, yakni Anjuk Ladang. Lokasi wisata Candi Lor ini terletak di tengah-tengah
persawahan warga. Sehingga kita bisa merasakan semilir angin sejuk di sela-sela padi yang mengalun senada dengan tiupan angin. Candi ini juga dikelilingi oleh beberapa pohon rindang yang semakin menambah kenyamanan pengunjung untuk menikmati sejarah kota angin ini. Setelah tiba, kita akan disambut oleh seorang juru kunci yang ramah dan tidak segan bercerita tentang sejarah berdirinya candi Lor sebagai lambang sejarah utama Nganjuk.

Kondisi Candi Lor & Tradisi Masyarakat Sekitar

Pada bangunan Candi Lor ini terdapat 2 buah makam, yaitu Abdi Dalem Kinasih Empu Sindok yang bernama: Eyang Kerto dan Eyang Kerti. Selain itu juga kita jumpai pohon yang sangat besar yang umurnya ± 500 tahun. Pohon kepuh ini berdiri di atas bangunan candi. Bahan baku pada bangunan Candi Lor adalah bata berukuran tinggi 5,6 m, panjang 7 m dan lebar 4,2 m. Keadaan candi sudah tidak utuh lagi tinggal sebagian badan dan kaki, dari tangga yang diperkirakan candi menghadap ke barat.

Peninggalan dari dinasti Isyana yang didirikan oleh Mpu Sindok ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Medang Kamulan. Mpu sendok merupakan Raja dari Kerajaan Mataram Kuno. Sebelumnya, Mataram Kuno berpusat di Jawa Tengah, namun karena adanya bencana alam dari gunung Merapi. Maka, kerajaan Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur yang kemudian diberi nama kerajaan Medang Kamulan. Kata Medang merupakan nama lain dari Mataram sedangkan Kamulan berasal dari kata mula yang artinya yang awalnya.

Kemudian Mpu sindok pun mendirikan sebuah tugu di Anjuk ladang dan punden berundak-undak sebagai tanda keberhasilannya yang kemudian disebut candi lor. Candi ini melambangkan perjuangan Mpu Sindok dalam melawan musuhnya dari Melayu yang akhirnya dimenangkan oleh Mpu Sindok. Mpu Sindok juga berjasa kepada masyarakat sekitar yang pada masa itu terbelit pajak. Mpu Sindok kemudian mampu membebaskan rakyat Anjuk Ladang dari pemaksaan pembayaran pajak. Mpu Sindok hanya meminta kepada rakyat Anjuk ladang merawat Jayastamba, yang merupakan tugu kemenangan Mpu Sindok atas Melayu. Hari kemenangan tersebut jatuh pada tanggal 10 April, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Nganjuk.

Keadaan sekarang hanya tinggal reruntuhan tetapi dari sisa-sisa yang ada dapat diketahui bahwa bangunan semula terdiri dari dua tingkat. Bagian depannya di barat di dekat reruntuhan candi ditemukan reruntuhan arca Ganesha dan Nandi, serta prasasti batu bertarikh 850 Çaka (937 M) yang menyebutkan bangunan suci Srijayamerta. Sehingga dapat disimpulkan Candi Lor merupakan bangunan suci Agama Hindu.(BUD/*)

LEAVE A REPLY