Desa Wisata Sebagai Destinasi Unggulan

0
183

ARCHIPELAGO – Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan 34 Propinsi adalah sebuah negara besar yang menempatkan Pariwisata ke depan sebagai peringkat pertama untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Sebagaimana tertuang dalam UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Bahwa keadaan alam, flora dan fauna, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, serta peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni, dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sumber daya dan modal pembangunan kepariwisataan untuk peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-undang dasar negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pembangunan pariwisata saat ini lebih memihak kepada masyarakat. Dengan konsep Community Based Tourism (CBT) yang menonjolkan keikutsertaan masyarakat lokal untuk berperan sebagai pelaku utama dan penerima manfaat dari pembangunan pariwisata itu sendiri

Desa Wisata Pujon Kidul yang ditata sedemikian rupa sehingga menarik para wisatawan untuk berkunjung

Salah satu model pembangunan pariwisata yang memberdayakan masyarakat sebagai pelaku adalah pengembangan desa wisata. Pengembangan Wisata pedesaan dan Desa Wisata tumbuh pesat dan menyebar di hampir wilayah Indonesia, terlebih dengan adanya dorongan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat PNPM Mandiri Pariwisata pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009–2014, serta hadirnya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, bahwa pemerintah tingkat desa memiliki otonomi sendiri untuk mengelola sumber daya dan arah pembangunannya.
Dengan Semakin banyaknya Desa Wisata maka pada tahun 2011 , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Timur memawadahi inisiatif pelaku Desa Wisata untuk membentuk suatu wadah yang bernama Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI).

Andi Yuwono , Ketua Umum Asidewi menyampaikan bahwa Desa Wisata bisa dikatakan melestarikan dan memberdayakan potensi keunikan berupa budaya lokal dan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang ada di masyarakat, yang cenderung mengalami ancaman kepunahan akibat arus globalisasi.

Di Jawa Timur sudah ada 610 Desa wisata dan bahkan di 12 Propinsi (Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara barat, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi) Desa Wisata berkembang pesat, Imbuhnya disela-sela bedah buku Desa Wisata Benteng NKRI di Surabaya (7/2), Karya bareng Andi Yuwono, Neno Rizkianto , Heru Dwi Santoso, Reza Kurniawan yang di launching 31 oktober 2018 di hotel Desa Visesa Ubud bali, bertepatan Dengan festival Desa Wisata Nusantara

Bedah Buku Desa Wisata Benteng NKRI

Kearifan local adalah roh utama dalam pengelolaan desa wisata. Nilai kearifan local terwujud dalam masyarakat melalui nilai keunikan budaya maupun tradisi yang dimiliki oleh masyarakat, nilai keotentikan yang telah mendarah daging dalam budaya masyarakat setempat, serta keaslian nilai-nilai tradisi yang muncul di masyarakat. Nilai-nilai ini yang akan menarik wisatawan mengunjungi Desa Wisata.

Andi Yuwono menambahkan bahwa pengembangan Desa Wisata memberikan manfaat secara ekonomi yaitu multiplier effect secara ekonomi kepada masyarakat lokal secara luas. Sekaligus mempertahankan nilai kearifan lokal.(MOKO)

ENGLISH VERSION

Desa Wisata Pujon Kidul

ARCHIPELAGO – Indonesia has more than 17,000 islands with 34 provinces that are a large country that places Tourism in the first place to increase prosperity and prosperity of the people.

As stated in Law No. 10 of 2009 concerning Tourism, That the state of nature, flora and fauna, as the gift of God Almighty, and ancient relics, historical, artistic, and cultural heritage possessed by the Indonesian people constitute tourism development resources and capital for the improvement of people’s prosperity and welfare as contained in Pancasila and the Opening of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia.

Tourism development is currently more impartial to the community. With the concept of Community Based Tourism (CBT) which emphasizes the participation of local communities to act as the main actors and beneficiaries of tourism development itself

One model of tourism development that empowers people as actors is the development of tourism villages. Rural Tourism Development and Tourism Village grew rapidly and spread in almost the territory of Indonesia, especially with the encouragement of the National Program for Community Empowerment of PNPM Mandiri Tourism during the administration of President Susilo Bambang Yudhoyono for the period 2009-2014, and the presence of Law No. 6 of 2014 concerning Villages, that village-level governments have their own autonomy to manage resources and the direction of their development.
With the increasing number of Tourism Villages, in 2011, the East Java Province’s Culture and Tourism Office facilitated Tourism Village initiatives to form a forum called the Indonesian Tourism Village Association (ASIDEWI).

Andi Yuwono, Chairperson of Asidewi said that Tourism Village can be said to preserve and empower the potential of uniqueness in the form of local culture and the values ​​of local wisdom in society, which tend to be threatened with extinction due to the flow of globalization.

In East Java there are 610 tourism villages and even in 12 provinces (Java, Bali, West Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi) Tourism Villages are growing rapidly, resulting in a book review on Benteng NKRI Tourism Village in Surabaya (7/2 ), Together with Andi Yuwono, Neno Rizkianto, Heru Dwi Santoso, Reza Kurniawan, which was launched on October 31, 2018 at the Visesa Village hotel in Bali, to coincide with the Nusantara Tourism Village festival.

The Book ‘Surgery’ of Benteng NKRI Tourism Village

Peserta bedah buku

Local wisdom is the main spirit in the management of tourist villages. The value of local wisdom is manifested in society through the uniqueness of the culture and traditions possessed by the community, the authenticity value that has ingrained in the culture of the local community, as well as the authenticity of traditional values ​​that arise in the community. These values ​​will attract tourists to visit the Tourism Village.

Andi Yuwono added that the development of Tourism Village provides economic benefits, namely the multiplier effect economically to the local community at large. While maintaining the value of local wisdom. (MOKO)

LEAVE A REPLY