Glamping, Cara Kemah Mewah Kekinian

0
150

ARCHIPELAGO – Glamping atau Glamorous Camping saat ini hadir menjadi salah satu pilihan menarik bagi Anda yang senang dengan alam tanpa melupakan faktor kenyamanan.

Pasalnya, glamping biasanya memberikan fasilitas yang cenderung mewah. Mulai dari tempat tidur yang nyaman berupa kasur spring bed, kamar mandi dengan shower dan air panas, hingga TV dan AC.

Belum lagi lokasinya yang strategis dan dekat dengan alam, seperti di tengah hutan, dataran tinggi dekat pegunungan, atau sekitar kawasan pantai perawan yang masih jarang disentuh wisatawan. Hasilnya, bukan cuma pengalaman berkemah yang mewah saja yang didapat, tapi juga kenikmatan bermain dengan alam.

Apalagi saat ini glamping tidak hanya didesain untuk kenyamanan tamu untuk beristirahat, tetapi juga untuk urusan foto. Desain tenda dan interiornya sengaja dibuat seapik, indah, dan semewah mungkin dengan tidak menggunakan banyak perabotan.

Wah, menarik sekali, kan? Pasti Anda semakin penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya glamping. Menurut Oxford Dictionary, glamping adalah suatu cara berkemah yang melibatkan akomodasi dan fasilitas yang lebih mewah dibandingkan dengan cara berkemah tradisional.

Tenda Glamping yang penataannya begitu mewah

Mengusung konsep Eco-Friendly, perabotan dalam tenda glamping biasanya menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, seperti kayu.

Tidak banyak menggunakan kaca dan plastik, dan umumnya diterangi dengan lampu bernuansa kuning yang menarik, sehingga menghasilkan kesan yang sangat Instagramable.

Tapi tahukah Anda, walau glamping membawa kesan kemewahan yang sangat kekinian, ternyata tren kemah mewah ini berasal dari masa lampau?

Ya, mengadaptasi cara hidup nomaden suku Mongol pada tahun 1100, di masa pemerintahan Genghis Khan, berkemah menjadi cara yang ditempuh masyarakat Mongol untuk berpindah tempat tinggal, terutama saat mereka melakukan ekspansi ke wilayah lain.

Kemah dianggap sangat cocok untuk menghindarkan mereka dari terpaan angin kencang dan memberikan tempat tinggal semi-permanen yang nyaman. Cara ini kemudian diadaptasi oleh penakluk asal Eropa, King Henry VIII of England and Francis I of France.

Ia dan pasukannya membuat perkemahan yang berisi 2.800 tenda pada tahun 1520 di bagian utara Prancis. Hal ini dilakukannya saat melakukan pertemuan diplomatik yang dikenal sebagai Field of the Cloth of Gold.

Kehidupan suku Tsaatans yang sudah mengenal glamping

Tenda-tenda tersebut didesain dengan megahnya, karena kemewahannya tenda yang digunakan pada masa ini pun bisa digunakan sebagai venue pesta bagi para bangsawan.

Setelahnya masih ada lagi tenda-tenda milik Kesultanan Ottoman yang bukan hanya mewah, tetapi juga dihiasi dengan guratan seni banyak seniman. Karena konsepnya yang mewah dan megah, lantas cara berkemah ini dikenal sebagai luxurious camping.

Setelah masa penaklukan usai, tren kemah mewah ini kemudian dilakukan kembali, namun dengan konsep yang modern dan lebih ramah lingkungan. Yaitu dengan membuat perkemahan mewah di kawasan Afrika, untuk mengakomodir kebutuhan orang-orang kaya dari Amerika dan Eropa yang ingin bersafari tanpa meninggalkan rasa nyaman.

Istilah glamping pertama kali muncul di Inggris pada tahun 2005, tapi baru ditambahkan ke dalam kamus pada tahun 2016. Seiring waktu, glamping mulai dikenal tak hanya di Inggris, Amerika, dan Eropa saja, tetapi juga merambah hingga ke Asia, Indonesia bahkan menjadi salah satu di antaranya.

Glamping di Indonesia dijadikan sebagai salah satu solusi oleh pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata untuk mendongkrak jumlah wisatawan.

Wisata berkemah mewah jenis ini menjadi opsi traveling jenis Nomadic selain menginap dengan karavan yang bisa Anda temukan dan alami di berbagai kawasan wisata Indonesia.(NUH/KUMPARAN)

LEAVE A REPLY