Gua Sunyaragi, Situs Sejarah di Tengah Kota Cirebon

0
661

ARCHIPELAGO – Gapura, batu karang, gua, gunung-gunungan, dan lorong-lorong batu. Inilah yang akan pengunjung temui di Gua Sunyaragi, Cirebon.

Terletak strategis di tengah kota di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Gua Sunyaragi sayang untuk dilewatkan saat berkunjung ke kota udang.

Pemandangan bangunan dan kompleks gua dengan gaya arsitektur Hindu, Islam, Cina, dan Eropa ini nampak eksotis dengan material batu karang dari laut selatan. Gua Sunyaragi merupakan situs dengan nilai sejarah. Gua ini merupakan peninggalan para sultan Cirebon yang diperkirakan dibangun mulai 1529.

Sultan dan anggota kerajaan menggunakan lokasi ini untuk beristirahat, meditasi, juga menggembleng fisik dan mental. Oleh karena itu, kesan sakral bisa dirasakan saat berada di areal gua ini.

Beberapa bangunan di kompleks gua ini memiliki fungsi masing-masing di masa lalu. Mande Beling, misalnya, biasa dipergunakan sultan untuk beristirahat saat mengunjungi Sunyaragi. Mande Beling berbentuk joglo berpagar kayu dengan pecahan beling (kaca) yang ditempel pada bagian bangunan.

Goa Sunyaragi di tengah kota Cirebon nan eksotis

Bangsal Jinem, adalah tempat sultan memberikan pengarahan atau wejangan kepada para pengikutnya. Bangsal ini juga dipergunakan sultan dan anggota kerajaan menyaksikan prajurit yang tengah berlatih perang atau bela diri.

Gua Pengawal berfungsi sebagai tempat berkumpul para pengawal dan pengiring sultan. Lalu ada pula Gua Pande Kemasan yang digunakan untuk membuat senjata seperti keris, tombak, dan barang logam lain.

Gua Peteng, merupakan gua paling gelap. “Gua ini digunakan untuk menyepi agar mendapatkan ilmu kekebalan tubuh,” ujar pemandu di Gua Sunyaragi. Di dalam gua ini, konon terdapat lorong sepanjang kurang lebih 12 kilometer yang tembus ke Gunung Jati.

“Sebelumnya, banyak anak kecil yang tersesat dan akhirnya ditemukan meninggal di Gunung Jati,” ujar pemandu lagi. Akhirnya, saat gua dipugar pada 1977-1982, lorong ini ditutup.

Tepat di pintu masuk Gua Peteng, terdapat patung Perawan Sunti. Ada kepercayaan di masyarakat bahwa mereka yang belum menikah akan sulit mendapatkan jodoh jika menyentuh patung ini.

Di dalam kompleks gua ini juga terdapat Kamar Kaputran dan Keputren, yaitu tempat putera-puteri sultan menjalani penggemblengan.

Ada juga Gua Padang Ati, untuk menyepi bagi orang yang merasa hatinya sedang gelap, agar kembali terang. Lalu ada Gua Langse, Gua Lawa, dan lain-lain di areal seluas 1,5 hektare ini.

Bagi yang ingin mengunjungi Gua Sunyaragi, disarankan datang menjelang sore saat sinar matahari tidak terlalu terik.(NUH/TEMPO)

LEAVE A REPLY