Indonesia Urutan Kedua Destinasi Wisata Halal Dunia

0
47
Menteri Pariwisata Arief Yahya (tengah) ketika menerima sertfikat GMTI 2018 dari CEO CrescentRating Fazal Bahardeen (kiri) yang didampingi Safdar Khan (kanan), Division President Indonesia, Malaysia & Brunei Mastercard di Jakarta (11/4). (Foto:Humas Kemenpar)

ARCHIPELAGO – Indeks peringkat Indonesia sebagai destinasi wisata halal dan ramah muslim di dunia terus membaik. Crescentrating bersama MasterCard baru saja merilis Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018. Di dalam GMTI 2018 Indonesia berada di peringkat ke-2, naik satu tingkat daripada posisi tahun lalu yang berada di peringkat ketiga. Indonesia bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA) bersama-sama menempati peringkat kedua. Malaysia masih menempati peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia.

Peringkat GMTI 2018 adalah (1) Malaysia ; (2) Indonesia dan UEA; (3)Turki; (4) Arab Saudi; (5) Singapura; (6) Qatar; (7) Bahrain; (8) Oman, dan (9) Maroko. Singapura menempati peringkat pertama destinasi wisata halal global dari negara non-muslim.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, pariwisata halal merupakan portofolio penting bagi pariwisata nasional. Terutama untuk mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2019 dengan menjaring wisatawan muslim global.

“Target kita pada 2019 nanti 5 juta wisman muslim dan 242 juta perjalanan wisnus muslim, serta menduduki peringkat pertama GMTI. Apalagi, negara kita adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, bisa dikatakan pariwisata kita adalah pariwisata halal,” ujar Menpar saat menghadiri sekaligus memberikan keynote speech di peluncuran Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 di Hotel Pullman Jakarta, Rabu (11/4).

Di dalam siaran pers yang dirilis oleh Kemenpar disebutkan, Indonesia bertekad akan berada di peringkat pertama tujuan wisata halal global pada tahun 2019.

Pemeringkatan GMTI merupakan hasil kerja sama antara CrescentRating dan Mastercard. Dalam penilainnya menggunakan empat kriteria dan bobot presentasi berbeda yakni aksesibilitas (10%), komunikasi (10%), lingkungan (40%), dan pelayanan (40%).

Potensi pasar wisatawan muslim global sangat tinggi. Nilai pasar ini diperkirakan mencapai USD 2,6 triliun pada 2020 atau rata-rata 6,3% per tahun. Pertumbuhan wisatawan muslim global diprediksi lebih tinggi lagi yaitu 9,1% per tahun.

“Betapa menggiurkan pasar ini untuk pariwisata kita. Di Indonesia, konsumsi penduduk muslim baru sekitar USD 225,7 miliar atau 12,5% dari total konsumsi muslim global,” kata Menpar.(SNT/RILIS)

LEAVE A REPLY