Jawa Timur Galakkan Wisata Budaya dan Tradisi

0
157

ARCHIPELAGO – Dinas Pariwisata Jawa Timur tengah menggalakkan dunia pariwisata dari sisi kebudayaan dan tradisi masyarakatnya. Hal itu diungkapkan Kepala Disbudpar Provinsi Jawa Timur Sinarto,S.Kar MM

Menurut Sinarto yang dijumpai Archipelago-Indonesia.com di ruang kerjanya menyatakan, banyak pariwisata di Jawa Timur yang menjadi unggulan khususnya wisata alamnya. “Namun kini kita ingin menggalakkan pariwisata dari sisi kebudayaan dan tradisi masyarakat,” ucapnya.

Ia melanjutkan, Jawa Timur disamping memiliki wisata alam dan tradisinya, juga memiliki wisata desa. “pariwisata jelas mempu mengeksplor kekuatan alam, budaya dan tradisinya termasuk pikiran dan kreativitas masyarakatnya,” tegasnya.

Redaksi archipelago-indonesia.com ketika berkunjung dan wawancara dengan Kepala Disbudpar, Sinarto,S.Kar MM.

Penguatan wisata desa sudah dilakukan di beberapa daerah khususnya di Banyuwangi. “Di Banyuwangi sudah digalakkan oleh pak Bupatinya. Untuk itu, kita akan melakukan langkah terobosan untuk lebih menggalakkan pariwisata Jawa Timur,” ungkap Sinarto yang juga menguasai ilmu dalang ini.

Disinggung tentang dana APBD dari Provinsi Jawa Timur, Sinarto menyatakan bahwa dana tersebut digunakan untuk melakukan sinergitas ke daerah. Menurutnya, fungsi dari Dinas Pariwisata Jawa Timur adalah dari sisi pengawasan dan pembinaan khususnya perihal pariwisata. “Caranya adalah dengan menstimulasi daerah untuk membuat paket-paket wisata, melakukan pendampingan. Tapi kali ini titik fokusnya adalah budaya dan tradisi masyarakat. Namun kita tidak mengesampingkan wisata alam Jawa Timur itu sendiri,” ucapnya.

Budaya dan Tradisi

Sinarto menuturkan banyak budaya tradisi yang perlu dieksplor dan diperkenalkan untuk para wisatawan seperti halnya budaya menanam padi di Bondosowoso. Menurutnya, dari budaya menanam padi di Bondowoso itu, maka wisatawan akan mengetahui berbagai hal karena dari tradisi menanam padi itu bisa mengetahui musim. “Maka tak heran Bondowoso merupakan wilayah agraris,” ujarnya yang didampingi Widarto, SS MM selaku Plt. Sekretaris Disbudpar Provinsi Jawa Timur.

Dari tradisi itulah, wisatawan asing dan lokal akan tertarik untuk mempelajari segala hal tradisi masyarakat Jawa Timur. “Ngomong Pariwisata jangan ngomong wisata alam saja atau keseniannya saja, tetapi juga ngomong tradisi seperti halnya tradisi menanam padi, tradisi mengolah tanah dll,” imbuhnya.

Disamping itu juga banyak tradisi masyarakat yang perlu ditonjolkan seperti halnya, tradisi pernikahan, mulai lamaran hingga ritualnya. Ada juga tradisi bayi yang mudun lemah (turun tanah, RED) tradisinya seperti apa, itu juga perlu dipelajari dan bisa menjadi andalan pariwisata.

“Meski sebuah daerah tidak memiliki tempat wisata, namun kalau memiliki tradisi maka itu merupakan kekuatan dari daerah itu sendiri,” tegasnya.

Dibagi Wilayah

Untuk menekankan sisi tradisi dari pariwisata, Dinas Pariwisata Jawa Timur membagi dalam beberapa wilayah. Seperti halnya wilayah Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi dan sekitarnya merupakan wilayah pertanian dan nelayan. Demikian pula wilayah lainnya seperti Gresik, Bojonegoro, Tuban, Jombang yang lebih menonjol dengan tradisi religinya.

Disamping itu, Dinas Pariwisata juga akan mendorong wilayah Lingkar Wilis yang termasuk wilayah Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Magetan dll untuk lebih terpacu dalam hal pengembangan pariwisatanya khususnya dalam hal tradisi.(NUH/SNT/MOKO)

East Java Promotes Cultural and Tradition Tourism

Sinarto,S.Kar MM,Head of Disbudpar East Java Province

ARCHIPELAGO – The East Java Tourism Office is promoting the world of tourism in terms of the culture and traditions of its people. This was revealed by the Head of the Disbudpar East Java Province Sinarto, S.Kar MM

According to Sinarto, who was met by Archipelago-Indonesia.com in his office, he stated that many tourism in East Java were excellent, especially for natural tourism. “But now we want to promote tourism in terms of the culture and traditions of the people,” he said.

He continued, East Java besides having natural tourism and traditions, also had village tourism. “Tourism clearly can explore the power of nature, culture and traditions, including the mind and creativity of its people,” he stressed.

Strengthening village tourism has been carried out in several regions, especially in Banyuwangi. “In Banyuwangi it has been promoted by the Regent of Bupat. For that, we will make a breakthrough to further promote tourism in East Java,” said Sinarto who also mastered the mastermind’s knowledge.

Mentioned about APBD funds from East Java Province, Sinarto stated that the funds were used to carry out synergies to the regions. According to him, the function of the East Java Tourism Office is in terms of supervision and guidance especially regarding tourism. “The trick is to stimulate the regions to make tour packages, conduct assistance. But this time the focus is on the culture and traditions of the people. However, we do not rule out East Java’s natural tourism itself,” he said.

archipelago-indonesia.com editorial staff when visiting and interviewing the Head of Disbudpar, Sinarto, S.Kar MM.

Culture and Tradition

Sinarto said that many traditional cultures need to be explored and introduced to tourists as well as the culture of planting rice in Bondosowoso. According to him, from the culture of planting rice in Bondowoso, tourists will know various things because from the tradition of planting rice it can know the season. “So it’s no wonder Bondowoso is an agrarian area,” he said accompanied by Widarto, SS MM as Acting. Secretary of Ministry of Culture and Tourism of East Java Province.

From that tradition, foreign and local tourists will be interested in learning everything about the traditions of the East Java community. “Speaking of Tourism, don’t just talk about natural tourism or the arts, but also talk about tradition as well as the tradition of planting rice, traditions of cultivating land etc.,” he added.

Besides that, there are also many traditions of society that need to be highlighted as well as the traditions of marriage, from the application to the ritual. There is also the tradition of babies who are weak (down the ground, RED) traditions like what, it also needs to be studied and can become a mainstay of tourism.

“Although an area does not have a tourist place, but if it has a tradition, it is the strength of the area itself,” he said.

Divided Into Region

To emphasize the traditional side of tourism, the East Java Tourism Office divides into several regions. Like the Situbondo region, Bondowoso, Banyuwangi and surrounding areas are agricultural and fishing areas. Similarly, other regions such as Gresik, Bojonegoro, Tuban, Jombang are more prominent with their religious traditions.

In addition, the Tourism Office will also encourage the Wilis Ring area which includes the Madiun, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Magetan etc. areas to be more motivated in terms of tourism development especially in terms of tradition. (NUH/SNT/MOKO)

LEAVE A REPLY