Kalibiru, Harta Karun Papua yang Belum Terjamah

0
470

ARCHIPELAGO – Raja Ampat, Papua Barat tak hanya punya Pulau Misool dan Pulau Wayang. Jauh dari hiruk pikir wisatawan, Raja Ampat juga masih punya “harta karun” yang tersembunyi.

Adalah Kalibiru. Sungai Kalibiru ini terletak di sudut Raja Ampat yang berdekatan dengan teluk Mayalibit.

Bukan perkara gampang untuk bisa menjelajahi “kristalnya” Papua ini. Butuh perjuangan besar bagi wisatawan yang ingin menilik langsung keindahan Kalibiru.

Sayang, memang harta karun ini tak sepopuler Pulau Misool atau Wayang karena berada dalam rimbunan hutan. Sekilas melihat kejernihan air sungai ini bagaikan kristal.

Jernih tanpa noda

Pertama kali melihat airnya, mungkin traveler akan tergoda untuk berandam.
Dalam bahasa lokal, sungai ini dikenal dengan sebutan Warabiae.

Dilansir TribunTravel.com dari berbagai sumber, Kalibiru ini membentuk sebuah kolam jernih dengan kedalaman sekitar 5 meter.

Nah, lantas mengapa sungai indah ini dinamai Kalibiru?

Ternyata nama tersebut diambil karena airnya nan jernih biru alami tanpa terjamah limbah. Jadi warna yang terbentuk benar-benar alami.

Tapi tak semua bagian berbawarna biru.Beberapa bagian hulu malah airnya tak berwarna biru.

Secara ilmiah, fenomena alam ini berhubungan dengan gelombang cahaya dari matahari oleh air sungai Kalibiru.

Saat sinar matahari mengenai dasar sungai, molekul air akan menyerap warna merah pada spektrum cahaya dan kemudian disusul warna kuning, hijau, dan ungu, seperti dilansir TribunTarvel.com dari vebma.com.

Warna biru diserap paling terakhir oleh molekul air.

Itulah mengapa warna yang terlihat oleh mata kita adalah warna biru.

Di bagian hulu, suasana alam di sana sangat alami yang membuat traveler betah berlama-lama di sana.

Ini dalah harta karun yang benar-benar belum terjaman tangan manusia. Untuk sampai dilokasi ini traveler harus melakukan perjalanan ekstra.

Medan yang dihadapkan benar-benar masih alami jadi sangat susah ditembus.
Ada 2 opsi melakukan perjalanan di Kalibiru.

Lewat Kampung Warsandim atau Waisai. Semua rute tersebut hanya bisa ditempuh dengan cara berjalan kaki. 30 menit berjalan kaki barulah traveler bisa menemukan harta karun ini.(NUH/TRIBUNNEWS)

LEAVE A REPLY