Lawang Sewu Dari Kesan Seram Jadi Ajang Selfie

0
95

ARCHIPELAGO – Lawang sewu merupakan salah satu cagar budaya di kota Semarang. Dinamakan lawang sewu karena bangunan peninggalan Belanda ini mempunyai banyak pintu yang tinggi-tinggi. Dikarenakan jumlah pintunya yang demikian banyak maka masyarakat menamakan gedung ini dengan Gedung Lawang sewu, yang berarti Gedung pintu seribu atau seribu pintu.

Gedung beregistrasi CB 27 ini awalnya adalah Kantor pusat perkereta apian swasta Belanda yang pertama kali membangun jalur perkereta apian di Indonesia atau Het hoofdkantoor van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan jalur pertama Semarang – Tangoeng (Tanggung-Kabupaten Grobogan) sejauh 25 Km, yang diresmikan pada 10 Agustus 1867. Dimana Pada tahun 1893 dibangun pula jalur Yogyakarta–Brost, kemudian jalur Yogyakarta–Ambarawa lewat Magelang dan Secang. Dan NIS terakhir membangun jalur Gundih- Surabaya sepanjang 245 Km.

Denah gedung Lawang Sewu

Lawang Sewu yang dirancang oleh arsitek dari Amsterdam, Prof. Jacob F. Klinkhamer dan BJ. Ouendag ini mulai dibangun 27 Februari 1904 dan selesai pada bulan juli 1907

Seluruh proses perancangannya dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambarnya dibawa ke Kota Semarang. Di Blue Print (cetak biru) Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan digambar dan ditandatangani di Amsterdam pada tahun 1903.

Semenjak selesai dibangun gedung berlantai dua ini digunakan sebagai kantor NIS hingga tahun 1942 saat pendudukan Jepang. Dan Selama 3 tahun (1942–1945), gedung NIS digunakan Jepang sebagai Riyuku Sokyuko (Jawatan Transportasi Jepang). Bahkan Jepang juga menggunakan ruang bawah tanah yang merupakan saluran air atau lorong–lorong air yang berada di bawah, yang konon lorong ini berhubungan dengan bangunan lain yang ada di sekitar Lawang Sewu, sebagai penjara untuk orang Belanda dan Indonesia. Banyak dari para tahanan itu mati di lorong-lorong. sehingga Lawang Sewu dikatakan serem. Setelah merdeka gedung ini Digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKRI).

Potret gedung Lawang Sewu Kuno sebelum direnovasi

Pada saat terjadi Agresi Belanda tahun 1946, Gedung berusia 115 tahun ini, sempat dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1949, Kodam IV Diponegoro, pernah menggunakan sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro). Dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah juga pernah berkantor di Gedung ini. Dan sejak 1994 Gedung NIS diserahkan kembali kepada PERUMKA (Perusahaan Umum Kereta Api).

Sementara itu , setelah kemerdekaan Indonesia, Gedung Lawang sewu memiliki catatan sejarah tersendiri. Ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14-19 Oktober 1945). Gedung bersejarah ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.

Untuk mengenang pertempuran lima hari, pada 10 nopember 1951. di lokasi terjadinya pertempuran itu didirikan monument Tugu muda, yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953, yang tepat berada di depan Gedung Lawang Sewu.

Lorong di gedung Lawang Sewu

Setelah dipugar pada tahun 2009 . Lawang Sewu tampil menawan, sehingga kesan seram dan cerita mahluk halus yang berada di lawang sewu sebelumnya, perlahan mulai tergantikan oleh banyaknya wisatawan yang datang. Kecuali bagi orang-orang tertentu yang mempunyai penglihatan lebih.

Gedung Lawang Sewu mempunyai luas 11.124 M2, Dibangun di atas lahan seluas 14.216 M2. Letaknya yang berada di area Simpang lima Tugu Muda , yang padat arus lalu lintasnya, dan tidak adanya lahan parkir di area lawang sewu, menjadikan para wisatawan yang hendak ke Lawang Sewu harus hati- hati.

Tidak jarang pengendara lainnya membunyikan klakson agar mobil wisatawan segera berlalu. Sehingga wisatawan secara tidak sadar jadi terburu-buru, dan bisa terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.

Pohon yang berusia ratusan tahun di Lawang Sewu

Gedung Lawang Sewu, terbagi menjadi 5 Gedung, yaitu Gedung A (ruang pamer), gedung B (ruang komersial), Gedung C lantai 1 (ruang informasi pemugaran), Gedung C Lantai 2 (kantor pengelola), gedung D (ruang tunggu, area merokok), Gedung E (Ruang perpustakaan).

Indahnya Interior dan Gaya Arsitektur Khas Eropa membuat banyak wisatawan berkunjung ke Gedung ini. Dengan tiket masuk terjangkau, menjadikan Lawang Sewu sebagai lokasi favorit wisatawan untuk swa foto, terlebih di deretan Pintu-Pintu Tinggi yang kokoh yang ada di Gedung yang diberi nama Gedung Lawang Sewu.(MOKO)

ENGLISH VERSIONS:

Japanese tourist enjoy the landscape of Lawang Sewu

Lawang Sewu From Spooky Impression Becomes a Selfie Event

ARCHIPELAGO – Lawang sewu is one of the cultural reserves in the city of Semarang. Named lawang sewu because this Dutch heritage building has many doors that are high. Due to the large number of doors, the community named this building with the Lawang Sewu Building, which means the Gedung Pintu Thousand or a thousand doors.

The CB 27 registered building was originally a Dutch private railway office that first built railway lines in Indonesia or Het hoofdkantoor van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) with the first line Semarang – Tangoeng (Tanggung-Regency Grobogan) as far as 25 Km , which was inaugurated on August 10, 1867. Where in 1893 a Yogyakarta – Brost line was built, then the Yogyakarta – Ambarawa route through Magelang and Secang. And the last NIS built the Gundih-Surabaya line along 245 Km.

Lawang Sewu designed by architects from Amsterdam, Prof. Jacob F. Klinkhamer and BJ. This Ouendag began construction on February 27, 1904 and was completed in July 1907

The whole design process was carried out in the Netherlands, and then the pictures were taken to the city of Semarang. In the Lawang Sewu Blue Print it was written that the site plan and floor plan were drawn and signed in Amsterdam in 1903.

The direction to every place around Lawang Sewu

Since it was completed, the two-story building was used as an NIS office until 1942 during the Japanese occupation. And for 3 years (1942-1945), the NIS building was used by Japan as Riyuku Sokyuko (Japanese Transportation Agency). Even Japan also uses basements which are waterways or waterways that are below, which is said to be related to other buildings around Lawang Sewu, as prisons for Dutch and Indonesian people. Many of the prisoners died in the halls. so Lawang Sewu is said to be scary. After independence this building was used as the office of the Republic of Indonesia Railway Agency (DKRI).

At the time of the Dutch Aggression in 1946, this 115-year-old building was once used as the headquarters of the Dutch army. In 1949, Diponegoro Regional Military Command IV used as the Office of the Military Regional Command Infrastructure Agency (Kodam IV / Diponegoro). And the Central Java Regional Office (Kanwil) of the Ministry of Transportation also has offices in this building. And since 1994 the NIS Building was handed back to PERUMKA (Railway Public Company).

The pump whell in Lawang Sewu

Meanwhile, after Indonesian independence, the Lawang Sewu Building has its own historical record. During the five-day battle in Semarang (October 14-19 1945). This historic building is the location of a great battle between AMKA youth or the Youth Train Force against Kempetai and Kidobutai, Japan.

To commemorate the five-day battle, on November 10, 1951. at the location of the battle, the Tugu Muda monument was erected, which was inaugurated by President Soekarno on May 20, 1953, which was right in front of Lawang Sewu Building.

After being restored in 2009. Lawang Sewu looks charming, so the scary impression and the story of spirits who were in lawang sewu before, slowly began to be replaced by the many tourists who came. Except for certain people who have more vision.

The Lawang Sewu building has an area of ​​11,124 M2, built on an area of ​​14,216 M2. It is located in the Tugu Muda Intersection area, which has a heavy traffic flow, and the absence of parking space in the Lawang Sewu area, making tourists who want to go to Lawang Sewu must be careful.

It is not uncommon for other riders to sound their horns so that the tourist’s car passes. So that tourists are unconsciously in a hurry, and unexpected things can happen.

Lawang Sewu Building, is divided into 5 Buildings, namely Building A (showroom), building B (commercial space), Building C, 1st floor (information room renovation), Building C, 2nd floor (manager’s office), building D (waiting room, waiting area, area smoking), Building E (Library room).

The beauty of the interior and the style of typical European architecture make many tourists visit this building. With affordable entrance tickets, making Lawang Sewu as a favorite location of tourists for self-photos, especially in the rows of sturdy High Doors that are in the Building named Lawang Sewu Building. (MOKO)

LEAVE A REPLY