Mahasiswa Asing Belajar Topeng dan Budaya di Padepokan Mangun Dharma Tumpang-Malang

0
370

 

ARCHIPELAGO – Tidak terlalu sulit jika seseorang yang tidak tahu siapa saja tokoh seniman Topeng Malang, pasti salah satu rujukannya adalah Ki Soleh Adi Pramono, beliau mantan dosen UM sangat luas wawasan khasanah tentang seni dan budaya Malang.
Beliau adalah dalang wayang topeng terbaik di Malang sekaligus pengrajin topeng dan guru tari topeng. Senior satu ini sangat disegani, dihormati dan selalu menjadi referensi bagi siapa saja yang mau belajar tentang seni dan budaya.

Tak salah jika sejumlah 10 orang rombongan mahasiswa luar negeri dari berbagai Negara yang sedang belajar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang sejak pagi sampai siang, sabtu 4 Agustus 2018 bertandang ke Padepokan Seni Mangun Dharma dengan maksud dan tujuan belajar seni budaya Malangan.

Mahasiswa asing sedang belajar mengecat topeng.

Padepokan yang berada di Dusun Kemulan, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. menempati lokasi yang dekat dengan jalan raya, yaitu antara pasar Tumpang bagian belakang, menuju ke arah Poncokusumo, Kabupaten Malang. Desa Tulusbesar terletak di sebelah barat lereng kaki Gunung Semeru.

Di Desa Tulusbesar ini dikenal sebagai desa budaya karena kaya akan budaya Jawa yang turun temurun menjadi ciri khas Desa Tulusbesar. Kesenian yang dapat ditemui di Desa Tulusbesar di antaranya seni tari, kuda lumping, wayang, bantengan, terbang jidor dan lainnya. Dengan banyaknya jenis kesenian itu, maka didirikanlah sebuah padepokan seni bernama Mangun Dharma atau Wijaya Kusuma.

Para Mahasiswa asing tengah belajar tentang ilmu topeng dan mengecat topeng.

Padepokan Seni ini secara resmi didirikan pada tanggal 26 Agustus 1989 oleh Muhammad Soleh Adi Pramono dan masyarakat Desa Tulusbesar. Sampai saat ini Padepokan Seni Mangun Dharma masih aktif, dan banyak kegiatan yang dilakukan diantaranya latihan tari topeng, gamelan, dan lain-lain.

Entah sudah berapa ratus bahkan berapa ribu turis atau mahasiwa mancanegara yang sudah pernah berkunjung ke padepokan ini yang hampir tak terhitung jumlahnya, yang jelas hampir tiap minggu, tiap bulan padepokan ini selalu jadi tujuan bagi mahasiswa asing untuk sekedar belajar membuat topeng atau menari topeng. Yang jelas, kunjungan mahasiwa lintas studi ini memang benar-benar pingin mengerti seni tradisi budaya Malang asli.

Keseriusan mahasiswa belajar budaya lokal.

Setidaknya disela-sela mereka merampungkan pekerjaan mengecat topeng yang dipandu oleh tokoh seni rupa Adi Prana dari pakis ini kolega Ki Soleh, mereka nampaknya ingin tahu banyak tokoh dan karakter topeng yang sedang dibuatnya.

Eden Suoth laki-laki asal Amerikat Serikat yang sedang studi dan fasih bahasa Indonesia di UM dari Jurusan filsafat dan Matematika University of New Hampshire Amerika Serikat ini mengatakan, “Ada suatu perbedaan antara membaca pelestarian budaya dengan sesuatu yang berbeda dengan melaksanakan melestarikan budaya secara langsung. saya berfikir lebih menghargai bagaimana proses membuat topeng setelah kami masing-masing mengecat topeng itu sendiri masing-masing secara langsung. Saya sendiri juga merasa senang saya diberi kesempatan untuk belajar budaya topeng mulai dari sejarah dan latar belakang topeng Malang.”

Para mahasiswa yang belajar ilmu topeng.

“Ada banyak orang yang menikmati topeng dan estetika topeng tapi belum tentu kenal dengan latar belakang dengan budaya topeng,” imbuhnya.

Kegiatan mengecat topeng yang dilakukan 10 mahasiswa asing itu nampaknya kegiatan pertama yang mereka lakukan berkaitan dengan kegiatan seni rupa, dengan sengaja Adi Prana membebaskan mereka untuk mengekpresi dan menuangkan warna-warna dalam topeng itu. Topeng atau adalah bahasa psikologi disebut dengan persona adalah sesungguhnya merupakan penggambaran jati diri karakter manusia dan warna menandakan perwatakannya.

Setelah mereka belajar mengecat topeng, mahasiswa asing diajak oleh para penari padepokan Mangun Dharma untuk belajar gerakan menari topeng Grebeg jowo dan grebeg sabrang. Mereka seolah larut dan hanyut dalam tarian dan setaik hentakan mereka berteriak dan tertawa menandakan bahwa mereka itu suka.

Eden Suoth menambahkan “bahwa masa depan topeng Malang sangat tergantung pada pelaku pelestari budaya topeng seperti di padepokan ini. Sangat tepat sekali jika kami orang asing diundang dan bisa belajar seni tradisi, mestinya warga Indonesia sendiri harusnya bangga dan lebih menghayati.”(MOKO/*)

LEAVE A REPLY