Menelusuri Petilasan Majapahit

0
120

ARCHIPELAGO – Majapahit, sebuah kerajaan besar di Jawa Timur yang didirikan menantu Raja Terakhir Kerajaan Singasari, yaitu R. Wijaya pada tahun 1293, mempunyai banyak peninggalan. Prasasti, Candi, Arca dan situs –situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang mempunyai Mahapatih legendaris Gajahmada dan mencapai puncak kejayaaannya pada saat masa Raja Hayam Wuruk ini banyak ditemukan di Jawa Timur dan daerah lain seperti Jawa Tengah (Candi Sukuh, Candi Cetho), Bali (pura Maospahit di Denpasar).

Disamping Banyaknya peninggalan kerajaan Majapahit yang ditemukan , ada beberapa petilasan dari Kerajaan majapahit yang sampai sekarang masih dipelihara dan diabadikan menjadi nama suatu tempat. Salah satunya adalah Petilasan Tribhuwana Tunggadewi yang terletak di tengah persawahan Desa Klinterejo, Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Bahkan Petilasan Sabdo Palon dan Naya Genggong yang merupakan guru Damar Wulan, serta petilasan pendeta Maha Resi Maudoro, juga berada di satu lokasi dengan Petilasan Tribuwana Tunggadewi.

Demikian juga dengan Petilasan Raja Hayam Wuruk di Probolinggo. Karena Majapahit dapat menguasai seluruh nusantara pada tahun 1357, maka Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1359 mengadakan perjalan keliling dan singgah di Desa Banger, Desa Baremi dan Desa Borang. Sejak saat itu daerah ini dikenal dengan nama Prabu Linggih. Yang pada akhirnya menjadi Probolinggo (salah satu versi asal nama Probolinggo).

Pendopo Taman Candra Wilwatikta yang masih direnovasi.

Demikian pula dengan Sebuah Taman yang berada di tepi jalan raya arah Tretes Pandaan Jawa Timur. Taman yang tepat berhadapan dengan Restoran Ayam Sri ini adalah Satu-satunya Taman yang mempunyai Amphiteater berkapasitas 15.000 orang di Jawa Timur. Taman yang sedang direvitalisasi ini, konon diyakini sebagai petilasan gladi “tempat latihan” para prajurit Majapahit. Mungkin Bisa juga dikatakan bahwa karena adanya tempat penggemblengan prajurit atau kawah ‘candradimuka’-nya prajurit Majapahit.

Petilasan Majapahit yang diyakini sebagai tempat latihan prajurit dan yang berada 500 m disebelah utara Candi Jawi ini, ada kemungkinan, pada saat Prabu Hayam Wuruk melakukan safari berkeliling negeri dan berkunjung ke Candi Jawi untuk berdoa kepada leluhurnya, dipergunakan sebagai “Rest Area” nya Prabu Hayam Wuruk dan rombongannya. Bisa Jadi pada waktu itu tempat ini adalah tanah lapang dan view dari petilasan ini sangat indah yang langsung menghadap Gunung Penanggungan.

Taman Candra Wilwatikta

Vila yang ada di Taman Candra Wilwatikta.

Taman ini dibangun pada 28 Oktober 1963 oleh 3 orang yaitu : Kolonel M. Wijono (Gubernur Jawa Timur 1963-1967) dan Mayor M. Said (Salah satu tokoh penting di Jawa timur saat itu, memegang beberapa jabatan, salah satunya menjabat sebagai Ketua Yayasan Taman Candra Wiwatikta) serta Ibu Dar Mortir (Nama Asli : R.A Soedarijah Soerodikusno – Pelaku sejarah pertempuran 10 Nopember di Surabaya –perjuangan Bu Dar Mortir bisa dilihat di Museum Tugu Pahlawan Surabaya), Taman ini diberi nama Taman Candra Wilwatikta yang berarti Taman Surya Majapahit, untuk mengabadikan bahwa taman ini adalah petilasan Majapahit.

Taman Candra Wilwatikta (TCW) yang berada diketinggian 300 m dpl , mempunyai luas 12.3 Ha. Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 31 Agustus 1971, dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, yakni fasilitas pendapa berkapasitas 500 orang yang mempunyai dua panggung permanen, toilet, dan ruang ganti. Pendapa ini juga diperuntukkan sebagai gedung kesenian dan gedung serbaguna.

Selain Pendapa ada juga ruang rapat R. Wijaya dengan kapasitas 100 orang, ruang pamer, serta villa sebanyak 14 unit, dan paviliun dengan kapasitas 150 orang serta musholla.

Salah satu sudut taman yang ada di Taman Candra Wilwatikta.

Disamping itu tersedia kebun seluas 5 hektar yang ditanami tanaman langka pohon mangga berbuah dua jenis dari satu pohon, dan dua pohon Bodhi yang saling mengisi, dimana kedua pohon Bodhi akan bergantian saat daunnya gugur dan bersemi.

Di Taman ini ada Amphitheater atau panggung terbuka yang berkapasitas 15.000 penonton. Panggung terbuka yang menghadap Timur dan berlatar belakang Gunung Penanggungan yang berada di sebelah baratnya merupakan satu – satunya panggung terbuka di Jawa Timur. Panggung terbuka lainnya yang ada di Indonesia adalah Panggung Terbuka Prambanan yang berlatar belakang Candi Prambanan

Panggung Terbuka terletak di sisi Barat kompleks Taman Candra Wilwatikta. Tempat duduk penonton berupa deretan kursi beton yang membujur Utara Selatan. Berderet deret dari Barat dan menyesuaikan dengan kontur tanah yang dibuat meninggi di sisi Timur. Mirip dengan Amphitheater Yunani kuno, yang dibangun setengah lingkaran, yang tempat duduk penontonnya berjenjang mengitari panggung. Di Utara dan Selatan panggung dihiasi dengan dua Arca Dwarapala.

Amphitheater, salah satu areal panggung terbuka di Taman Candra Wilwatikta.

Taman Candra Wilwatikta , dewasa ini dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis ( UPT ) Pengembangan Ekonomi Kreatif Taman Candra Wilwatikta. Berbagai event pameran dan pentas seni budaya digelar di Taman ini, seperti Pameran Kerajinan, pameran makanan khas daerah dan pentas seni budaya baik nasional, seperti Festival Kesenian Pesisir Utara yang diselenggarakan pada 21-23 September 2018, Festival Kesenian Indonesia (7/7/18) maupun yang berskala internasional sepeti festival Panji, Pagelaran Sendratari Ramayana.
Event Sendratari Ramayana atau Ramayana Festival Internasional yang diadakan pada 31 Agustus 1971, mengharumkan Jawa Timur karena Pagelaran itu dihadiri oleh perwakilan kesenian India, Malaysia, Thailand, Birma, Laos, Kamboja, Srilangka, Singapura.

Taman candra Wilwatikta yang beberapa tahun lalu dipercantik dengan sejumlah kijang yang dibiarkan lepas dalam lingkungan taman ini mempunyai nilai historis dan merupakan tempat cikal bakal terbentuknya Himpunan Pramuwisata Indonesia atau yang lebih dikenal dengan HPI.

Dirjen Pariwisata saat itu memprakarsai Temu wicara Nasional untuk mempersatukan asosiasi Pramuwisata seluruh Indonesia saat akan diselenggarakan Rakernas I HDWI (Himpunan Duta Wisata Indonesia – sebuah himpunan tourist guide Indonesia sebelum terbentuknya HPI).

Drs. Handoyo-kepala UPT Taman Candra Wilwatikta.

Temu wicara yang di selenggarakan pada tanggal 29-30 Maret 1988 dihadiri oleh Seluruh Kepala Dinas Pariwisata di Indonesia dan 15 asosiasi pramuwisata. Hasil dari Temu Wicara tersebut, atas usul Dirjen Pariwisata, nama HDWI di ganti menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia atau HPI , yang merupakan salah satu stakeholder Pariwisata Indonesia yang memiliki Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di tingkat provinsi dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HPI di tingkat Kabupaten-kota di seluruh Indonesia.

Drs. Handoyo , Mpd , Kepala UPT Taman Candra Wilwatikta menyebutkan bahwa untuk event tahun 2019, paling tidak akan diselenggarakan 5 event besar di sini. Dan “Kami mengundang pihak-pihak yang ingin berinvestasi dalam pengembangan fasilitas wisata Taman candra Wilwatikta untuk pemanfaatan lahan yang masih luas,” Imbuhnya.(MOKO)

LEAVE A REPLY