Mengintip Kampung Mural di Salatiga

0
70

ARCHIPELAGO – Sebuah perkampungan di Kota Salatiga, Jawa Tengah mendadak ramai, Kamis (1/11/2018) pagi. Kampung yang dulunya dikenal banyak pemuda “nakal” kini dipenuhi dengan gambar mural.

Iya, kampung mural berada di Dukuh Pancuran, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Tampilan kampung ini terlihat begitu apik hingga akhirnya dinobatkan sebagai kampung wisata.

Secara sekilas, gambar mural terlihat berupa tokoh-tokoh besar asal Salatiga. Foto tokoh dilukis di atas tembok terpampang jelas di jalan sepanjang 200 meter itu.

“Kampung ini memang bukan warna-warni, tapi alhamdulillah berhasil diubah. Kita mengubah, intinya agar moral warga sini supaya lebih baik,” ujar Budi Sutrisno, tokoh warga Dusun Pancuran.

Kampung Wisata Pancuran dulunya kerap dijuluki kampung nakal. Kasus perkelahian, hingga tawuran kerap dilekatkan warga dusun tersebut.

Kreativitas menjadikan kampung ini dikenal.

Namun perlahan citra itu menghilang dan berubah lebih positif selama 4 tahun terakhir. Melalui kegiatan seni, warga diajak berubah menjadi lebih baik.

“Dulu kasus berkelahi, tawuran, kalau mencuri di sini tidak ada. Kalau sekarang ketika ada tawuran mungkin satu dua, tapi sudah tidak seperti dulu. Dulu hampir tiap malam selalu ada masalah,” ucapnya.

Kampung Mural di Dusun Pancuran dilengkapi dengan titik nol, taman, dan berbagai macam gambar mural. Pembangunan mural kampung Pancuran merupakan kolaborasi perusahaan cat AkzoNobel, yang juga merupakan produsen Dulux, bersama warga penduduk setempat.

Wali Kota Salatiga, Yuliyanto, memuji kerja kreatif warga RW 04 Pancuran untuk mengubah lingkungannya menjadi hidup dna berwarna.

Ia mewakili pemerintah Salatiga meyakini perubahan akan diikuti dengan perubahan perilaku dari warganya.

“Kami optimistis ini akan membantu meningkatkan kualitas lingkungan kota dan meningkatkan daya tarik wisatawan untuk datang ke sini,” katanya.

Perwujudan kampung wisata Pancuran juga sejalan dengan visi untuk mengembangkan kawasan kota tanpa permukiman kumuh.

“Saya apresiasi AkzoNobel atas kontribusinya dalam membuat inisiatif ini menjadi kenyataan,” kata Yuliyanto di sela-sela peresmian kampung wisata tersebut.

Sementara itu, Head of Brand & Consumer Marketing AkzoNobel, Anastasia Tirtabudi, menambahkan, pihaknya antusias diberi kesempatan bekerja sama dengan masyarakat untuk mempercantik lingkungan.

Bupati meresmikan kampung mural

Sebagai perusahaan cat, menurut Anastasia, AkzoNobel meyakini perubahan dari segi warna akan membuat suatu tempat menjadi lebih hidup.

“Kami percaya pada kekuatan transformatif warna untuk memperkaya masyarakat dan membuat ruang tempat tinggal lebih berwarna, nyaman dan menyenangkan,” ujarnya.

Proses pembuatan Kampung Wisata Pancuran membutuhkan waktu sekitar delapan bulan, dengan pelibatan 100 orang warga setempat. Mural dibuat di ruang publik dan dinding-dinding di sepanjang tepi sungai di kampung tersebut.

Dari total lahan di kampung itu yang mencapai 10.000 meter persegi, 3.000 meter diantaranya telah dilakukan pengecetan dengan cat Dulux Weathershield.(NUH/KOMPAS)

LEAVE A REPLY