Mengunjungi Rumah Si Pitung

0
70

ARCHIPELAGO – Sebuah rumah panggung bergaya Betawi berdiri tegak di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Rumah yang didominasi warna coklat itu dikenal dengan sebutan Rumah Si Pitung.

Berkunjung ke Rumah Si Pitung, lokasinya ada di ujung sebelah timur Jakarta Utara, yang berdekatan dengan pesisir laut. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk Ibu Kota. Maklum, daerah di sekitar Rumah Si Pitung, tidak begitu banyak pemukiman penduduk, dan berdekatan dengan kolam tambak ikan.

Siang itu, sedang tidak banyak turis yang mengunjungi destinasi bersejarah tersebut. Hanya ada belasan murid sekolah dasar, yang memanfaatkan pelataran Rumah Si Pitung untuk bermain.

Tempat Tidur di Rumah Si Pitung

Kompleks Rumah Si Pitung terdiri dari tiga bangunan. Selain Rumah Si Pitung, dua bangunan lainnya difungsikan sebagai toilet, mushala, serta kios tempat berdagang, yang tampak belum terisi.

Rumah Si Pitung sendiri terletak di tengah-tengah. Bangunan berbentuk rumah panggung itu punya beberapa ruangan.

Layaknya rumah tinggal, bagian terdepan dari rumah itu adalah beranda. Satu set meja yang dilengkapi dengan stoples, tampak dipasang di salah satu sudut ruangan.

Memasuki bagian dalam rumah, pengunjung disambut ruang tamu sebelum menemui kamar tidur.

Ruang Tamu di rumah Si Pitung yang tampak sangat sederhana.

Di dalam kamar tidur, tempat tidur berkelambu tertata rapih. Masuk lebih jauh ke dalam rumah, terdapat ruang tengah, dan ruang makan yang cukup luas.

Tidak banyak koleksi atau peninggalan terkait Si Pitung, yang disimpan di ruangan tersebut. Hanya ada sebuah meja makan, dua buah lemari, dan tiga buah bangku di sana.

Dinding di bagian dalam rumah dihiasi sejumlah pernak-pernik, yang sayangnya tidak begitu menceritakan sosok Si Pitung.

Seperti Robin Hood

Si Pitung merupakan sosok legendaris bagi warga Betawi. Bak ‘Robin Hood’, lelaki yang jago bela diri itu tak segan merampas harta saudagar-saudagar kaya, untuk dibagikan kepada warga miskin.

“Selama delapan tahun Si Pitung melakukan aksi perampokan dengan sasaran saudagar yang dinilainya bersekutu dengan Belanda telah mengeruk uang dan emas permata yang tidak sedikit nilai dan jumlahnya,” tulis Ridwan Saidi dalam artikelnya, Si Pitung, Perampok atau Pemberontak?”

Potongan artikel Ridwan Saidi tersebut merupakan satu-satunya hiasan di Rumah Si Pitung yang menceritakan sosok Pitung.

Untuk memahami sejarah Si Pitung, barangkali memang dibutuhkan pemandu wisata yang menemani selama berkeliling Rumah Si Pitung.

Sayangnya, tidak ada pemandu wisata yang bertugas kala wartawan berkunjung. “Biasanya Sabtu-Minggu tiap hari juga ada. Ini kebetulan lagi off,” kata seorang petugas keamanan.

Rumah Si Pitung buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Harga tiketnya berkisar dari angka Rp 1.500 untuk rombongan pelajar, hingga Rp 5.000 untuk dewasa perorangan.(NUH/KOMPAS)

LEAVE A REPLY