Menyusur Jejak Suku Bangsa Austronesia & Patung Purba di Sulawesi Tengah Bag. 1

0
336

ARCHIPELAGO – Belum banyak yang tahu jika lembah Besoa, Napu dan Bada Provinsi Sulawesi Tengah ternyata pernah di huni oleh manusia purba dan pembuat patung-patung megalitik yang asal muasalnya berasal dari ras bangsa Austronesia. Tentang kehadiran kelompok bangsa ini di Sulawesi Tengah terkesan masih sangat tertutup dan belum terekspos secara luas dan baru diketahui oleh segelintir wisatawan asing lewat situs-situs internet yang juga masih sangat terbatas jumlahnya.

Untuk itu pihak Pemerintah Pusat lewat Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah sejak beberapa tahun terakhir ini secara reguler mulai mengupayakan sejumlah kiat agar hal-hal yang tadinya masih tertutup dan berpotensi menjadi Daya Tarik Wisata (DTW) berupa megalitik-megalitik purba tersebut bisa terekspos dan dikenal oleh dunia luar baik pada tataran nasional maupun mancanegara, salah satunya melalui kegiatan Famtrip Excotic Poso Land yang melibatkan sejumlah elemen dan stakeholder (Tour & Travel) dari sejumlah daerah seperti dari Palopo dan Makassar, Sulawesi Selatan serta media massa yang diselenggarakan sejak tanggal 4 hingga 7 Juli 2019.

Selain memperkenalkan tentang maha karya purba dan patung-patung megalitiknya famtrip kali ini juga ikut mengenalkan tentang eksotika flora & fauna Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) yang saat ini sudah diakui oleh Unesco sebagai Cagar Biosfir (CB).
Dari draft perjalanan yang ada, famtrip kali ini difokuskan di Kabupaten Poso dengan mengambil rute perjalanan dari Bandar Udara Mutiara Palu sebagai starting point yang kemudian dilanjutkan ke Lembah Napu TNLL (Danau Tambing & megalitikum) – Danau Poso dan Festival air terjun Saluopa – Pantai Siuri Kecamatan Pamona Puselemba selanjutnya wilayah megalitik purba Lembah Bada dan selanjutnya kembali lagi ke Palu dengan rute perjalanan yang nantinya akan melewati Kabupaten Parigi Moutong.

Kunjungan hari pertama itu sendiri untuk sementara telah berhasil menarik sebuah gagasan dari Rifki salah satu Staf Kementerian Pariwisata Bidang Percepatan Pengembangan Milineal Tourism dan Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah, Nurhalis. Kepada Archipelago Indonesia keduanya sepakat agar potensi – potensi dan Daya Tarik Wisata yang ada di Sulawesi Tengah termasuk kuliner dan keragaman budayanya dikemas dalam bentuk sebuah paket perjalanan yang nantinya juga dijual lewat teknik pemasaran berbasis teknologi internet. ” Ini perlu di kemas dan dijual dalam bentuk sebuah paket dan di jual menggunakan sistem berbasis online yang mana materinya dikombinasikan sesuai dengan kondisi alam dan selera wisatawan itu sendiri,” ungkap keduanya seragam. (Dedy T)

Salah satu kawasan hutan cemara terbesar di lembah Napu yang belum terjamah dan tempat hunian hewan endemik Sulawesi seperti kerbau hutan (Anoa) dan Babi Rusa. ft team

(bersambung)

LEAVE A REPLY