Pacu Adrenalin, Taklukkan Via Ferrata Trenggalek

0
165

ARCHIPELAGO – Selain aneka macam potensi wisata alam yang indah, Kabupaten Trenggalek kini mempunyai lokasi wisata yang baru dan unik. Wisata panjat tebing melalui jalur khusus atau yang biasa disebut dengan Via Ferrata yang diharapkan mampu menarik wisatawan.

Via Ferrata yang baru saja dibuka untuk umum ini merupakan yang pertama di Jawa Timur. Lokasi Via Ferrata ini berada di Gunung Sepikul sehingga wisata ini dinamai Sepikul Via Ferrata atau Sparta. Wisata Via Ferrata berasal dari bahasa Italia yang artinya jalur besi.

Pada wisata tersebut, jalur besi ini dipasang meniti ketinggian tebing. Biasanya jalur besi dipasang pada tebing yang benar-benar vertikal. Via Ferrata sendiri sudah ada sejak abad ke-19, dan mulai dimanfaatkan pada perang dunia pertama, Hingga kini, di seluruh dunia sudah ada lebih dari seribu Via Ferrata. Jalur besi terbanyak berada di Italia dan Austria.

“Wisata ini merupakan Via Ferrata pertama di Jawa Timur. Kami menawarkan variasi pilihan bagi wisatawan lokal maupun internasional. Bagi wisatawan yang hendak merasakan sensasi memanjat tebing tanpa skill khusus, Via Ferrata merupakan pilihan tepat,” kata pengelola Sparta, Topan Eko.

Via Ferrata itu berada di tebing Gunung Sepikul di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Diharapkan wisata baru ini akan menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun Internasional.

“Selanjutnya akan Kami tambah beberapa wahana yakni flying fox dan sepeda udara juga akan disiapkan di lokasi ini,” ujarnya. Wisatawan yang ingin mencoba cukup bermodal niat serta nyali. Baik dewasa maupun anak-anak bisa memanjat tebing di lokasi wisata ini. Via Ferrata di Trenggalek dibagi menjadi dua spot pendakian, dengan ketinggian sekitar 150 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan 250 mdpl. “Yang harus dipersiapkan oleh pengunjung untuk memanjat di sini adalah persiapan fisik serta mental. Di Gunung Sepikul ini juga ada lokasi pemanjatan bagi yang sudah memiliki skill, tapi berada di sisi tebing lain,” ujarnya.

Sebelum memanjat tebing, para wisatawan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh tim pemandu. Setiap sepuluh pemanjat didampingi satu orang pemandu. Setelah itu, satu per satu wisatawan mulai menaiki tangga besi yang tertancap di dinding batu Gunung Sepikul. “Sudah menjadi kewajiban Kami untuk melakukan briefing terlebih dahulu terhadap para pengunjung, agar mengerti istilah maupun penggunaan alat,” ujarnya.

Pengunjung, tidak perlu khawatir masalah keamanan maupun kekuatan besi yang tertancap. Setiap orang yang memanjat dilengkapi dengan peralatan yang memadai. Mereka wajib menggunakan helm, lanyard, maupun harness. Tali baja dipasang di sepanjang jalur Via Ferrata diberi tali baja agar pemanjat lebih aman bila terjadi kesalahan saat berada di tebing. Bahkan, sejumlah pemanjat yang berada di ketinggian terlihat menikmati suasana sambil mengabadikan moment dari ketinggian dengan menggunakan kamera foto hingga ponsel.(MOKO/*)

LEAVE A REPLY