Penyelamatan Harta Karun Musik Indonesia

0
55

ARCHIPELAGO – Mengapa kami memilih judul Penyelamatan Harta Karun? Masyarakat belum banyak yang menyadari bahwa keeping-keping piringan hitam (PH) yang berisi karya para seniman musik sejatinya merupakan kekayaan intelektual bangsa Indonesia. Di dalamnya berisi seni keindahan olah vocal, ketrampilan memainkan instrument, kreatifitas menciptakan lagu, harmonisasi aransemen dan penjiwaan dalam penulisan syair. Belum lagi ada peran artistik dari cabang seni rupa, fotografi dan desain grafis dalam covernya. Sebuah karya intelektual yang terwujud dengan gotong royong.

Sepanjang MMI ketahui, saat ini PH sudah tidak diproduksi lagi di Indonesia. PH tertua di MMI adalah produk Lokananta yang dirilis tahun 1957. Judulnya adalah Dolanan Kanak Kanak yang dibawakan oleh kelompok Kesenian Djawa Studio Jogjakarta pimpinan R. Ng. Tjokrowasito. Album ini terdiri dari 8 buah lagu dengan nomor seri ARD-001.

Piringan hitam terakhir yang beredar di Indonesia yang ada di MMI adalah produksi tahun 1985. Penyanyinya Meriem Belina asal Bandung dengan judul album Kerinduan. Tahun-tahun berikutnya PH sudah tidak diproduksi lagi. Rekaman fisik beralih ke bentuk CD. Dengan demikian rasanya tak terlalu berlebihan kalau kami memandang piringan hitam sebagai harta karun atau Indonesia Music Heritage.

Acara Penyelamatan Musik Indonesia

Koleksi PH di MMI ada 2.650 buah, sekitar 600 buah dari mancanegara. Dari identifikasi sementara, setidaknya terdapat 200 nama penyanyi/group musik perempuan yang PH-nya tersimpan di MMI. Beberapa penyanyi dengan jumlah PH terbanyak antara lain Tetty Kadi, Ernie Djohan, Elvy Sukaesih, Hetty Koes Endang, Waljdinah, Titiek Sandhora, Ervinna, Arie Koesmiran dan Andi Meriem Matalatta. Untuk penyanyi pria ada Mus Mulyadi, Broery Pesolima dan Bob Tutupoly.

Jenis musik yang terdapat dalam piringan hitam koleksi MMI secara tidak langsung juga menggambarkan sejarah perjalanan musik di Indonesia. Peninggalan kerajaan Hindu Budha mungkin bisa kita nikmati lewat musik gamelan, pengaruh Islam ditandai dengan musik gambus, lalu masuk Portugis dan lahirlah keroncong yang disusul pengaruh cina melalui gambang kromong dan stambul di Jakarta.

Memperingati Hari Kartini, MMI akan mencuci dan membersihkan karya-karya tersebut. Beberapa penyanyi terkenal yang PH-nya akan dicuci adalah Diana Nasution dari Sumatera Utara, Elly Kasim (Sumatera Barat), Elvy Sukaesih (Jakarta), Ully Sigar Rusady (Jawa Barat), Waldjinah (Jawa Tengah), Dara Puspita, Ervinna, Arie Koesmiran (Jawa Timur), Titiek Puspa (Kalimantan Selatan), Tari Pendet (Bali), Ingrid Fernandez (NTT) dan Pattie Bersaudara (Maluku).(BUD/*)

ENGLISH VERSIONS:

Save Indonesian Musical Heritage

ARCHIPELAGO – Why did we choose the title of Treasure Rescue? Not many people realize that the LPs containing the works of music artists are actually Indonesian intellectual property. In it contains the art of beauty though vocals, skills to play instruments, creativity in creating songs, harmonization of arrangements and inspiration in writing poetry. Not to mention there is an artistic role from the branches of art, photography and graphic design in the cover. An intellectual work that was realized with mutual cooperation.

As long as MMI knows, currently PH is no longer being produced in Indonesia. The oldest PH in MMI is a Lokananta product released in 1957. The title is Dolanan Kanak Kanak which was performed by the Djawa Studio Jogjakarta Arts group led by R. Ng. Tjokrowasito. This album consists of 8 songs with the serial number ARD-001.

The last record in circulation in Indonesia at MMI was produced in 1985. The singer Meriem Belina was from Bandung with the title album Kerinduan. In the following years PH was no longer produced. Physical recording switches to CD. Thus it doesn’t feel too much if we look at LPs as a treasure or Indonesian Music Heritage.

The PH collection at MMI has 2,650, around 600 from abroad. From the temporary identification, there are at least 200 names of female singers / music groups whose PHs are stored on MMI. Some singers with the highest number of PHs included Tetty Kadi, Ernie Djohan, Elvy Sukaesih, Hetty Koes Endang, Waljdinah, Titiek Sandhora, Ervinna, Arie Koesmiran and Andi Meriem Matalatta. For male singers there are Mus Mulyadi, Broery Pesolima and Bob Tutupoly.

The type of music contained in the LP record collection indirectly also illustrates the history of musical travel in Indonesia. The legacy of the Buddhist Hindu kingdom may be enjoyed by gamelan music, the influence of Islam is marked by gambus music, then entered the Portuguese and was born keroncong followed by Chinese influence through gambang kromong and stambul in Jakarta.

The Event of Save Indonesian Musical Heritage

Commemorating Kartini Day, MMI will wash and clean the works. Some famous singers whose PH will be washed are Diana Nasution from North Sumatra, Elly Kasim (West Sumatra), Elvy Sukaesih (Jakarta), Ully Sigar Rusady (West Java), Waldjinah (Central Java), Dara Puspita, Ervinna, Arie Koesmiran (East Java), Titiek Puspa (South Kalimantan), Pendet (Bali), Ingrid Fernandez (NTT) and Pattie Bersaudara (Maluku). (BUD/*)

LEAVE A REPLY