Syahdunya Lantunan Adzan di Situs Sentono Probolinggo

0
433

ARCHIPELAGO – Terngiangnya suara adzan dan warga probolinggo bisa tahu Islam dari tempat ini. Tempat tersebut dikenal dengan petilasan Syeikh Maulana Ishaq yang umum disebut situs Sentono. Tempat tersebut adalah saksi atau bukti otentik akan masuknya Islam ke probolinggo oleh Syehk Maulana Ishaq.

Konon tempat tersebut dibangun sebagai tempat untuk mensyiarkan agama Islam. Situs Sentono tersebut dibangun sekitar 1401 yang berarti tempat tersebut sudah berumur sekitar 614 tahun.

Alkisah, pada akhir keruntuhan kerajaan Majapahit, bersamaan masa itu terdapat petilasan seorang wali di Desa Kregenan. Sesepuh yang membabat makam Sentana adalah Buyut/Bujuk Perut yang asli desa sekitar, setelah lama di pegangnya tanah tersebut lalu di dalamnya terdapat sebuah makam petilasan Syeikh Maulana Ishaq, sedang makam Buyut Perut sendiri berada di barat luar tembok makam Syeikh Maulana Ishaq.

Dan istilah dinamakan Perut, karena tatkala beliau menemukan seutas kawat diambilnya dan diperut-perutnya (elus-elus:Jawa) kemudian kawat tersebut spontan menjadi sebuah keris, nah dikarenakan itulan beliau dikenal dengan sebutan Buyut Perut, namun nama aslinya tiada yang tahu. Dan sayang cerita ini di masyarakat sekitar tidak melegenda.

Makam Syeikh Maulana Ishaq sendiri ditemukan pada zaman Kolonial Belanda, ada pula yang mengatakan pada zaman Inggris ketika menjajah Indonesia, yang mana tatkala itu kondisi desa tersebut masih sulit ditemukan, karena dahulunya terdapat sebuah tanah belukar yang dipenuhi dengan rerimbunan tanah dan pepohonan serta kabutnya tumbuhan-tumbuhan lain. Apalagi rerimbunan pohon yang lebat, besar.

situs sentono di kraksaan probolinggo

Namun dibalik tumbuhan yang sulit dijamah itu orang-orang takut melangkahkan kaki ke tanah tersebut. Sebab tanah nya angker boleh jadi dikatakan hutan yang jarang dijamah manusia, tanah tersebut berada di sekitar tanah Buyut Perut sendiri, sehingga yang menemukan petilasan tersebut didaulat oleh warga sekitar menjadi juru kunci pertama, karena beliau termasuk sesepuh desa kala itu.
Kemudian dengan meninggalnya beliau, diganti oleh ahli waris selanjutnya. Sebagaimana makam yang kita lihat sekarang ini sudah terlihat bersih, jadinya mudah dijangkau.

Jadi, Makam petilasan wali agung sebagai ayahanda Sunan Giri berada di Desa Kregenan. Juru kunci pertama adalah Buyut Perut. Dan konon penemuan makam tersebut berawal dengan adanya sinar dari langit yang menyelubungi makam Syeikh.

Berziarah dan Mengaji

Setiap malam Jumat, warga mendatangi petilasan ini, untuk berziarah bersama anggota keluarganya, yang nyekar dan mengaji di areal petilasan itu.

Komplek petilasan Syekh Maulana Ishak, dikelilingi pagar batu bata kuno. Lebarnya sekitar 100 x 50 m. Di dalam komplek petilasan berdiri sebuah pendapa, disisi utara pendapa tersebut ada sebuah ruangan.

Di ruangan berukuran sekitar 3 x 4 meter tanpa langit langit itu, terdapat sebuah makam. Makam inilah yang sering dikunjungi warga untuk menggelar tahlil dan mengaji.

Petilasan Syekh Maulana Ishak sangat mudah ditemukan. Jaraknya sekitar tiga kilometer ke Selatan pertigaan jalur pantura Pajarakan atau barat Polres Probolinggo.

Untuk menuju petilasan ini melewati dua Desa. Yakni, Desa Sukomulyo, Kecamatan Pajarakan dan Desa Rondokuning, Kecamatan Kraksaan.

Pohon beringin besar menjulang yang berada di depan kompleks petilasan itu, menjadi penanda keberadaan petilasan, selain makam umum yang berada di belakang kompleks petilasan.

“Warga menyebutnya beringin kembar atau Sentono. Tak heran, nama daerah sini lebih dikenal dengan nama Sentono,” terangnya.

Hasin (64) juru kunci petilasan setempat mengatakan, berdasarkan cerita leluhurnya, petilasan tersebut mulai ramai dikunjungi warga sejak sekitar tahun 1940-an.

Mengambil Air Gentong

Selain tahlil dan mengaji. Masyarakat juga memanfaatkan keberadaan sebuah sumber air yang ditampung dalam sebuah kendi berukuran besar (Gentong).

Air tersebut diyakini membawa berkah dan kesehatan bagi yang meminumnya.

“Disini tiap malam jumat legi juga ramai dikunjungi masyarakat. Tidak hanya masyarakat sini, dari Madura, Makassar, Sumatara, Kalimantan dan daerah lain sering berkunjung kesini. Mereka datang untuk ziarah, menggelar tahlil dan mengaji di salah satu makam yang ada di dalam komplek petilasan. Bahkan, ada yang sampai menginap,” katanya.

Juru kunci kedelapan itu, menceritakan, berdasarkan cerita dari leluhurnya, ketika Syekh Maulana Ishak menyebarkan agama islam di pulau Jawa, di awal abad 14 M Syekh Maulana Ishak sempat beristirahat di daerah Desa Kregenan, sebelum menuju daerah Blambangan, Banyuwangi.

“Selain petilasan disini, beliau meninggalkan sebuah sumber mata air yang berada didalam gentong. Harapan saya, karena menjadi warisan leluhur, petilasan ini bisa mendapat perhatian lebih dari pemkab Probolinggo. Sebab, bisa mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar,” harapnya.

Hingga saat ini perawatan petilasan setempat menggunakan dana sumbangan dari pengunjung yang hampir tiap hari datang, selain Jumat legi dan pada perayaan lebaran ketupat.

Selain itu, perawatan petilasan setempat juga berasal dari swadaya masyarakat setempat.

“Hasilnya kami gunakan untuk merehab dan pemugaran tembok dan bangunan pendopo disini. Dan, kami sangat berterima kasih jika pihak pemerintah bisa lebih memperhatikan salah satu situs sejarah ini,” tutupnya.(ABDUL ROHMAN/BERBAGAI SUMBER)

LEAVE A REPLY