Tiga Dasa Warsa Pengabdian SHS

0
179

 

ARCHIPELAGO – Berawal dari keinginan untuk mengabadikan nama Ayahandanya, Sudjud Hadi Suprapto, yang jika disingkat menjadi SHS, maka pada 11 Nopember 1988, Bagus Supomo mengajak 2 temannya (Lukman Hakim dan Bambang Hermanto GHB) yang sama-sama bekerja di Delta Palace Restoran Surabaya pada saat itu, sekarang bernama Restoran Kwoloon, mendirikan Sekolah Perhotelan di Surabaya , dengan nama Surabaya Hotel School (SHS), sama persis dengan singkatan nama ayahandanya.

Gagasan pemberian nama SHS pada sekolahnya itu sudah ada sejak Bagus Supomo berkarier di Food & Beverage Sanur Beach Hotel Bali. Menurut Bagus, Filosofi sederhana dari tiga huruf SHS dan Logo berbentuk segitiga sama sisi dengan bulatan dan garis penghubung itu, tersirat makna yang dalam.

Tiga sosok pendiri SHS

“Nama SHS akan tetap terbaca SHS meski dibaca dari belakang . ini bermakna bahwa SHS tahan banting dan tangguh. Terbukti hingga saat ini SHS masih dan akan berdiri ‘kokoh’. Kokoh bukan hanya dalam arti gedungnya yang semakin baik, tetapi juga kokoh dalam arti pilar-pilar pembangun Sekolah ini terus berkembang. Dan kepercayaan masyarakat bahwa SHS adalah ‘jembatan’ generasi muda meraih cita–cita menjadi hotelier semakin kuat. Sementara itu Logo segitiga sama sisi, adalah symbol dari Tiga pendiri SHS yang menjadi satu dan saling menopang,” kisah Bagus.

Pada awal berdirinya, tidak kurang 75 siswa menuntut ilmu di SHS. Untuk bisa memperoleh siswa sebanyak itu, Bagus Supomo bersama dua rekan seperjuangannya bersepeda motor memasang sendiri 200 Spanduk SHS, di kota-kota potensial di jawa Timur. Bahkan Bagus berseloroh “Awak ku legi Bekne,” teringat kenangan saat memasang spanduk penerimaan siswa SHS di pohon saat sekujur tubuhnya dikerubuti semut.

Front office SHS

Meski kepanasan dan kehujanan, spanduk SHS mereka pasang dengan senang hati karena misi mereka adalah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan perhotelan yang berkualitas dengan biaya serendah-rendahnya agar bisa terjangkau golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Dana awal untuk membuka lembaga pendidikan itu merupakan dana patungan dari 3 orang pendirinya. Masing-masing pendiri urunan dana sebesar Rp. 500 ribu, sehingga terkumpul Rp. 1,5 Juta. Dana itu digunakan untuk menyewa 1 ruangan mungil di sebelah hotel Elmi Surabaya. Para pendiri SHS bertekad membesarkan sekolah perhotelan ini. Meski baru beropersional, SHS tetap berkomitmen memberikan Beasiswa Gratis 100% tanpa biaya pada siswa yang kurang mampu.

Kampus SHS

Dari ruangan mungil yang berada di hotel Elmi Surabaya, dalam kurun waktu 3 tahun, SHS mampu menyewa 3 ruangan di suatu Ruko di Bratang Surabaya. Hal ini mengingat semakin banyaknya siswa yang belajar perhotelan di SHS.

Seiring bergeraknya waktu Surabaya Hotel School akhirnya mampu membeli sebuah rumah di Jl. Joyoboyo 10 Surabaya, setelah berpindah- pindah tempat untuk kelangsungan proses belajar siswanya . Maka akhirnya rumah yang dibeli itu, dibongkar dan dibangun menjadi Gedung megah ber lantai 5 yang dipergunakan sebagai Kampus Surabaya Hotel School sampai sekarang. Namun Pembangunan Gedung kampus SHS sempat mandek karena pada tahun 1998 terjadi krisis moneter.

Siswa SHS sedang praktek housekeeping

Menurut Bagus Supomo , Executive Director SHS, yang membanggakan dari siswa-siswa nya adalah mereka tidak hanya berasal dari Jawa saja. Tetapi mereka juga berasal dari berbagai provinsi dan pulau di Indonesia. 35 persen berasal dari kota Surabaya, sisanya yang 65 persen dari kota-kota se-Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat. Bahkan tidak sedikit dari Indonesia Timur, antara lain Ambon, Irian Jaya, Sulawesi (Makasar–Manado), Kalimantan, Flores, Lombok. Bahkan ada yang datang dari Indonesia Barat seperti Palembang, Padang bahkan Riau.

“Kami ingin suatu hari banyak siswa asing yang belajar disni. Jadi, kelak SHS akan menggunakan metode pendidikan berbasis internasional. Proses pengajarannya menggunakan bahasa Inggris agar lulusan SHS mahir berbahasa Inggris,” tutur Bagus
Supomo.

Bawa Surabaya ke Kancah Dunia

Bagus Supomo

 

Keinginan yang kuat dari Bagus Supomo mendirikan sekolah Perhotelan disebabkan ketika ia berkarier di Garden Palace hotel Surabaya menemui banyak siswa SMK jurusan perhotelan yang melakukan job training di hotel tersebut. Saat diminta mengerjakan tugas-tugas di hotel, selalu menjawab tidak bisa. padahal siswa tersebut sudah semester 5. Oleh karena itu, Bagus Supomo beserta 2 rekannya mendirikan lembaga pendidikan Perhotelan yang banyak prakteknya dibanding teori.

Dari 20.000 lulusan selama tiga dasa warsa ini, tidak kurang 98% alumni SHS terserap pasar, bahkan 15-20 % diantaranya bekerja di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia dan kota-kota besar di Asia. Tidak hanya itu, alumni SHS bertebaran di mancanegara lantaran mereka bekerja di kapal pesiar mancanegara seperti Holland America Line, Star Cruises dan hotel-hotel berbintang mancanegara serta restoran sekelas Subway Restaurant di North Carolina Amerika Serikat.

Siswa SHS sedang praktek bartender

Terserapnya alumni SHS di banyak hotel mancanegara, tidak lepas dari bekal Bahasa Inggris yang diberikan SHS pada siswanya dan ditunjang dengan adanya Laboratorium bahasa Inggris. Sejak kampusnya berada di Ruko Bratang Plaza, SHS sudah mempunyai laboratorium bahasa Inggris. “Ini penting untuk komunikasi, nah melihat trend yang berkembang, kini di SHS juga diajarkan bahasa mandarin. Kalau tidak mengikuti perkembangan zaman, SHS bisa ketinggalan kereta,” ungkap Bagus.

“Alumni Kami bekerja di hotel, resor, klub golf hingga kapal pesiar di berbagai negara. Hal ini menunjukkan mereka adalah SDM yang andal karena memiliki ketrampilan yang dibutuhkan,” ujar Bagus Soepomo yang juga selaku Executive Direktur Surabaya Hotel School (SHS).

Banyak lulusan sekolah SHS ini yang bekerja di berbagai tempat di seluruh dunia. Begitu pula banyak siswa yang diterima magang di luar negeri, misalnya di hotel-hotel di Malaysia. “Staf hotel-hotel tersebut datang langsung ke sini untuk merekrut para siswa yang akan magang di hotel-hotel mereka,” ujarnya.

Tidak hanya itu, grup hotel dan golf dari Malaysia, Portdickson dan Nilai, melakukan tes rekrutmen pada para siswa yang berminat magang di kedua tempat tersebut. Mereka bisa mendaftar lalu mengikuti tes dan wawancara. Bagus menjelaskan, tenaga yang diminta adalah untuk front office, restoran, kitchen dan house keeping. Jumlahnya mungkin 25-50 orang bergantung kebutuhan pihak yang meminta. Tak urung nama Surabaya pun terbawa hingga mancanegara. Dan Bagus Supomo telah berhasil membawa nama Surabaya ke kancah dunia.(MOKO/*)

LEAVE A REPLY