Tolak ke Asmat, Kartu Kuning Zaadit Dikritik Pedas

0
404
Kehidupan masyarakat suku Asmat Papua

ARCHIPELAGO – Perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia (UI) yang dihadiri Presiden RI, Ir. Joko Widodo pada jumat (2/2/2018) di Balairung UI Depok berlangsung ricuh. Di pertengahan acara, Jokowi selaku Presiden hadir untuk meresmikan forum Kebangsaan. “Universitas Indonesia lah penyumbang terbanyak menteri-menteri di Kabinet Kerja. Sampai saat ini ada enam alumni UI yang sekarang membantu saya di Kabinet Kerja,” ucapnya yang langsung disambut tepuk tangan.

Di pertengahan acara, pemuda pria berdiri sekaligus membunyikan peluit lengkap dengan kartu kuning seperti pada saat pelanggaran di kandang pesepak bola. Hal ini tentunya sangat mengagetkan seluruh pihak yang hadir.

Ketua BEM UI Moh. Zaadit Taqwa menyampaikan aspirasi pada Presiden Jokowi

Aksi tersebut dianggap sebagai peringatan kepada Presiden Jokowi untuk segera menyelesaikan permasalahan yang belum terselesaikan. Terdapat tiga masalah yang salah satunya yakni gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua. Diketahui bahwa aksi kartu kuning ini dilakukan oleh Ketua BEM UI bernama Moh. Zaadit Taqwa dengan alasan bahwa mahasiswa tetap akan mengawal pemerintah pada koridor yang benar.

Aksi ini membuat Universitas Indonesia ini semakin menggelegar. Beberapa mendukung dan membully aksi Zaadit ini. Perbuatan dengan bentuk kekesalan yang mendalam ini memang sangat terasa oleh masyarakat Indonesia kepada kinerja pemerintah. Akan tetapi, pemerintah bukanlah seseorang yang main-main dengan kebijakan yang ia berikan. Ada tata pola cara yang diberlakukan untuk bertemu bahkan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.

Budaya Suku Asmat Papua

Diketahui bahwa setelah kegiatan Dies Natalies UI ke-68, Presiden RI, Ir. Joko Widodo akan menemui mahasiswa khususnya BEM UI untuk saling bertukar pikiran. Presiden mau menerima BEM selepas acara karena telah diagendakan oleh protokol. Tetapi aksi tak diduga membuat presiden membatalkan agenda tersebut. Beberapa hari kemudian media massa kecewa dengan aksi aspirasi yang tidak sepatutnya dilakukan oleh mahasiswa UI yang bisa dikatakan sebagai gudang pintar.

Spontanitas presiden mengajak ketua BEM UI beserta anggotanya untuk berkunjung langsung melihat situasi penanganan campak di kabupaten Asmat di Papua. Tetapi ketua BEM UI menolak ajakan tersebut “Pertama, sebelum Pak Jokowi bilang akan ajak kami ke Asmat, kami sendiri sudah merencanakan berangkat ke sana. Nah, walaupun Pak Jokowi menawarkan bantuan pakai uangnya, kami tak mau,” kata Zaadit ditemui Suara.com di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (5/2/2018).

Penolakan keberangkatan ini menjadi ambang pemikiran mahasiswa yang tidak ingin berangkat dengan mengguanakan dana Negara dianggap akan sia-sia, tetapi menggunakan cara dengan mengumpulkan dana yang dipandang lebih efisien, padahal sama saja. Bila berangkat dengan pemerintah, maka keberangkatan akan ditanggung dan dibiayai pemerintah. Keheranan jika dilihat dari keteguhan Ketua BEM UI yang tetap menolak ajakan pemerintah. Pemerintah tidak akan rugi jika hanya memberangkatkan beberapa anggota UI ke Asmat. Yang membuat pemerintah rugi jika anggota BEM UI yang diberangkatkan ditak melakukan apa-apa.

Sebenarnya Zaadit ingin yang bagaimana? Siapa yang akan diajak Zaadit untuk pergi ke Asmat. Apakah Pimpinan Monash Institute, Dr. Mohammad Nasih sangat terkesan dengan aksinya, dengan apresiasi memberikan beasiswa dan hadiah umroh atas perlakuan Zaadit. Perbedaan pemikiran mahasiswa masa kini yang lebih kritis daripada mahasiswa jaman 90-an tidak menutup kemungkinan bahwa perilaku di era masa kini tidak lebih mengedepankan moral dalam memberi pendapat. Sangat tidak masuk akal jika kita mendukung aksi kartu kuning Ketua BEM UI. Mahasiswa yang tong kosong nyaring bunyinya suka mengurus perilaku orang lain tanpa melihat dirinya sendiri. Sebagai mahasiswa, tentunya kita harus mengetahui dulu bagaimana kondisi Asmat secara langsung bukan dengan hanya mengetahui perkembangan dengan hanya membaca Koran dan media elektronik.

Yang perlu diketahui, bahwa masyarakat Asmat mengatakan bahwa kondisi dipedalaman Papua yakni “tapi atas dasar yang masyarakat rasakan kinerja Presiden yang mulai tumbuh meskipun belum sepenuhnya terlaksana. Walaupun sebagai manusia masih ada kekurangan” ujarnya.

Kejadian yang sangat menggeparkan Indonesia khususnya dukungan maupun cemooh untuk Ketua BEM UI tidak sepatutnya dibesar-besarkan. Bisa disimpulkan bahwa perlu pemikiran matang sebelum bertindak. Masih untung ada yang mendukung aksi ini. Kejadian yang dianggap aneh ini seharusnya tidak terjadi, ada tempat tertentu untuk menyalurkan aspirasi kita kepada masyarakat yang harus sesuai dengan tata cara yang sewajarnya. Jangan terlalu berkoar-koar jika tak tau kondisi lapang sebenarnya.(IKE DWI AMBARWATI)

Biodata Penulis:
Ike Dwi Ambarwati. Kelahiran Situbondo, 14 Desember 1998. Sedang menyelesaikan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang dengan jurusan Ilmu Pemerintahan.

 

LEAVE A REPLY